Wednesday, 21 August 2013

Membangkitkan Rasa Hormat Terhadap Kebhinekaan




Drs. H. Bambang P. Sumo, MA
Pemerhati Masalah Sosial, Politik dan Budaya
 


Kita baru saja usai memperingati 68 tahun kemerdekaan negara ini, lepas dari negeri yang terjajah menjadi negeri yang merdeka dan berdaulat. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas perjuangan para pahlawan bangsa  yang bahu membahu berjuang melawan penindasan para penjajah tanpa berhitung untung rugi atau tanpa pamrih dan tidak membedakan dari mana asal muasal, agama dan suku.  Mereka semua bersatu padu mengusir penjajah melalui jalan masing-masing. Dan berkat perjuangan para pendahulu kita itu pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia menjadi negara yang berdaulat  memiliki wilayah dan pemerintahan sendiri. Sejak masa kemerdekaan  berbagai  tantangan dan goncangan terhadap negara yang kita cintai ini terus terjadi, dari masa RIS sampai Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi yang semua penuh dengan gejolak. Masalah utama dari semua ini karena adanya keberagaman atau kebhinekaan dari rakyat Indonesia yang belum tuntas terintegrasi dan terakomodasi. Bahkan semenjak Orde Reformasi yang bergulir  pada tahun 1998 seiring dengan lengsernya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan, bukannya memperkuat kohesi masyarakat Indonesia, tapi justru meningkatkan semangat kedaerahan dan kesukuan, dan menjauh dari semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia. Padahal semangat UUD 1945 mengatakan bahwa setiap warganegara Indonesia berhak untuk tinggal dan bekerja dimanapun di wilayah negara ini. Tetapi kenyataannya sekarang di daerah-daerah banyak sekat-sekat primordialisme dibentangkan. Nasionalisme dan keindonesiaan dari masyarakat dan elite politik, elite masayarakat, maupun elite birokrasi di daerah makin luntur menjadi lebih mementingkan ego kedaerahan, kelompok ataupun kerabat.
 Peliknya Multikultur
Para kolega yang berasal dari berbagai negara ataupun expatriate yang datang di Indonesia seringkali terkagum-kagum begitu mengetahui bahwa negeri ini memiliki ribuan pulau dengan berbagai suku bangsa serta ribuan bahasa daerah. Mereka menyatakan kekaguman dengan menyatakan betapa sulitnya mengelola keberagaman atau kebhinekaan tersebut, karena pemerintah di negerinya tidak menghadapi situasi multikultur  atau keberagaman yang sedemikian pelik seperti di Indonesia, yang tentu saja akan mempengaruhi aspek-aspek sosial, politik, budaya, ekonomi, hankam dan sebagainya. Oleh karena itu bila situasi seperti ini tidak dikelola dengan baik tentu akan dapat menimbulkan friksi dan perpecahan bangsa. Hal ini seringkali muncul bila terjadi benturan-benturan kepentingan, seperti bentrokan antar suku, antar komunitas, antar wilayah,  antar kelompok, antar organisasi massa, antar kampung. Ini semua seringkali disebabkan masih kuatnya unsur SARA. Dari hari ke hari sikap yang cenderung mengarah ke SARA ini tidak makin melembut tapi makin mencuat dengan dibungkus berbagai kepentingan dan kemasan yang kelihatan lebih canggih. Dalam situasi politik yang makin menghangat seperti sekarang ini karena menjelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, maka  benturan-benturan itu kemungkinan akan banyak terjadi di berbagai wilayah. Belum lagi Pemilukada baik untuk Gubernur ataupun Bupati/Walikota akan banyak mengeksploitasi kelompok-kelompok multikultur dengan penduduk asli.


Mengelola Keberagaman
Negeri kita tercinta dibangun berdasar kondisi kebhinekaan atau dengan melalui pondasi keberagaman masyarakat yang memiliki cita-cita yang sama untuk mendirikan negara kesatuan Republik Indonesia. Semenjak awal sudah disadari betul oleh “founding fathers” kita yang mendirikan negeri ini dan mendeklarasikan Soempah Pemoeda pada tahun 1928. Keindonesiaan dan nasionalisme inilah yang harus terus kita bina, pertahankan dan tumbuhkan ke segenap insan Indonesia. Setiap orang harus menyadari bahwa meskipun kita berbeda dari sisi asal wilayah, etnik, agama, status sosial dan beragam perbedaan lainnya, tapi harus tetap diingat  bahwa kita adalah orang Indonesia dan sama-sama memiliki negeri ini. Itulah jiwa nasionalisme. Seperti orang Amerika Serikat, meskipun berasal dari berbagai bangsa tapi dengan bangga mereka menyebut dirinya sebagai Americans. Seperti juga orang Thailand, suatu saat sewaktu sedang menghadiri workshop yang diselenggarakan oleh POPIN-ESCAP di Bangkok, penulis menjumpai suatu situasi yang menurut penulis merupakan suatu hal yang luar biasa. Pada waktu sedang berjalan dari hotel ke tempat workshop, penulis melewati sebuah instansi pemerintah yang sedang melaksanakan upacara. Pada saat itu terdengar dinyanyikan lagu kebangsaan Thailand, dan orang Thailand yang sedang berjalan di trotoar di depan instansi tersebut langsung berhenti dengan sikap sempurna sampai lagu kebangsaan tersebut selesai dinyanyikan. Situasi seperti ini saya kira sulit atau bahkan tidak mungkin dijumpai di Indonesia.
Sekarang ini yang menjadi pekerjaan rumah kita adalah bagaimana meningkatkan nasionalisme dan mengelola keberagaman atau kebhinekaan bangsa ini. Ini semua bisa dimulai dari lingkungan terkecil keluarga sampai di lembaga-lembaga pendidikan sejak dini. Bagaimana semenjak kanak-kanak diajarkan cinta tanah air dan juga menghormati keberagaman yang ada di sekitar kita. Kita harus bisa “build bridges” yang menghubungkan perbedaan antar etnik, antar agama, antar status sosial dan sebagainya dan membangun pemahaman bersama (common understanding) serta sikap saling menghormati secara lintas budaya. Disamping itu perlu terus-menerus agar masyarakat meningkatkan sensitivitas lintas budaya yang bisa secara efektif meningkatkan cultural awareness, cross-cultural understanding, serta bisa menumbuhkan respon dan sikap positif terhadap hal-hal yang dilakukan anggota budaya yang lain (Yook, 2013). Melalui peningkatan sensitivitas lintas budaya ini diharapkan masing-masing individu atau masyarakat/komunitas akan memiliki pengetahuan yang lebih baik terhadap budaya yang lain, memiliki informasi yang lebih akurat tentang budaya lain, serta mengurangi stereotype. Bila semua ini bisa dijalankan dengan baik dan semua pihak mendukung serta memiliki keinginan untuk hidup secara harmonis, maka semangat kebangsaan, nasionalisme dan konflik sosial, konflik rasial dan etnik bisa hilang dari bumi Indonesia, dan tentu saja kita akan menjadi bangsa yang besar, kuat dan modern.

Sunday, 28 July 2013

Balsem Hanya Jadi Penghangat, Tidak Mengurangi Kemiskinan



Balsem Hanya Jadi Penghangat, Tidak Mengurangi Kemiskinan
Drs. H. Bambang P. Sumo, MA
Pemerhati Masalah Sosial, Politik dan Budaya

Program Balsem atau BLSM yaitu Bantuan Langsung Sementara Masyarakat yang merupakan program kompensasi kenaikan harga BBM atau sebenarnya merupakan jelmaan baru dari BLT atau Bantuan Langsung Tunai, menuai banyak kritik karena banyak yang tidak tepat sasaran sekaitan dengan data masyarakat miskinnya dari Badan Pusat Statistik yang amburadul. Akibatnya banyak pimpinan wilayah dari Lurah, Camat dan juga Walikota/Bupati yang sewot karena banyak masyarakat miskin di daerahnya tidak mendapat kucuran Balsem. Malahan ada yang menolak mentah-mentah untuk menyalurkannya dan tidak urung Gubernur DKI Jakarta Jokowi pun tidak setuju karena dianggap tidak mendidik. Menurut Jokowi sebaiknya bukan program seperti ini yang diinginkan tetapi program yang sifatnya produktif dan membuat masyarakat mau berusaha.

Data Miskin
Kalau bicara masalah data, data apapun, di negeri ini dari semenjak jaman Orde Baru sampai jaman Reformasi tidak ada benarnya, masih tetap amburadul. Data tentang kemiskinan misalnya, bisa dimiliki beberapa instansi yang celakanya datanya tidak sama, masing-masing instansi dengan parameter sendiri mengumpulkan datanya sendiri. Untuk data impor atau ekspor, data hasil pertanian juga setali tiga uang, tidak ada yang sama.  Meskipun sekarang ini berdasarkan undang-undang yang ada BPS lah yang menjadi leading sektor untuk data. Namun demikian ternyata BPS masih kedodoran dalam akurasi data. Konon dari dulu sampai sekarang ada yang namanya data politik, data perencanaan dan data riil. Tergantung kepentingannya, mau mengajukan program atau kegiatan maka yang disebut data perencanaan ada kecenderungan digelembungkan supaya bisa mendapat anggaran yang berlebih. Kalau bicara tentang kemiskinan datanya cenderung diperkecil, sehingga bisa dianggap kemiskinan sudah berhasil  diturunkan. Belum lagi kalau kita bicara data kependudukan, dimana pemerintah masih dipusingkan dengan adanya data ganda penduduk yang cukup besar karena masih banyak penduduk yang mendaftarkan dirinya ke beberapa wilayah tapi belum sempat dihapus setelah terlaksananya program E-KTP dari Kementerian Dalam Negeri. Permainan data statistik di Indonesia ini cukup membingungkan banyak pihak, karena masing-masing lembaga mengklaim kalau datanya yang paling valid. Ketidakakuratan data rumah tangga miskin menyebabkan banyak program kemiskinan menjadi tidak tepat sasaran, misalnya Raskin, Balsem dan program lainnya.

Program Simtomatis
Program Balsem yang diberikan kepada rumah tangga sasaran setiap dua bulan sekali atau sebesar Rp 300 ribu (sebulan Rp 150 ribu), sebenarnya cukup lumayan bagi mereka yang masuk kategori sangat miskin. Balsem paling tidak bisa menjadi penghangat atau obat dari rasa pusing menghadapi beban hidup, atau sifatnya simtomatis. Simtomatis yang hanya mengobati rasa sakit tapi tidak mengobati penyebab rasa sakitnya. Dengan program-program yang sifatnya simtomatis, seperti Balsem, Raskin, Jamkesmas, bansos, tidak akan dapat mengurangi angka kemiskinan. Penduduk miskin akan tetap banyak tanpa ada dukungan program-program yang secara struktural bisa mengangkat harkat hidup mereka, atau program yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga miskin secara berkelanjutan, bukan program yang sifatnya periodik atau ad hoc. Pemerintah dan perusahaan-perusahaan melalui  program Corporate Social Responsibility  serta lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya dapat mendisain program yang dapat meningkatkan pendapatan para keluarga miskin, khususnya yang menyasar para anggota keluarga miskin, apakah kepala keluarganya (khususnya yang menganggur), istrinya, atau anak-anaknya untuk berwirausaha secara produktif melalui permodalan dan magang serta pelatihan ketrampilan sederhana yang dapat digunakan untuk mencari penghasilan dengan mudah. Bisa juga mereka dilatih untuk pekerjaan-pekerjaan sederhana yang tidak memerlukan keterampilan atau pendidikan yang tinggi. Hal ini mengingat tidak setiap orang bisa berwirausaha atau juga berdagang.

  
Jumlah Penduduk Makin Meledak
Bertambahnya jumlah penduduk Indonesia semakin mengkhawatirkan, setiap tahun bertambah sekitar 3,5 juta atau setara penduduk Singapore. Jumlah penduduk Jakarta saja yang sekitar 10 juta sudah setara dengan setengah penduduk Australia yang punya penduduk 20 juta. Sekarang ini Negara kita telah terbebani penduduk sebanyak 240 juta, dengan kualitas penduduk yang sangat rendah. Rata-rata pendidikan masyarakat Indonesia belum sampai pada level lulus SMA atau sederajat, rata pendidikan nya masih SMP plus. Dengan kondisi yang memprihatinkan tersebut, dengan sendirinya tingkat kesejahteraan masyarakat kitapun sudah bisa ditebak. Beban berat inilah yang ditanggung negara kita tercinta. Bisa kita bayangkan, dengan penduduk yang sebesar itu berapa fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi, perumahan, perkantoran, infrastruktur, pasar, dan sebagainya yang harus kita sediakan. Setiap tahun terus bertambah, tidak heran kalau pemerintah juga kedodoran melayani pemudik lebaran yang akan mudik ke Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, yang diperkirakan ada 9,5 juta pemudik dari DKI Jakarta dan sekitarnya. Bagaimana kita lihat setiap hari kemacetan lalu lintas di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia yang setiap tahunnya bertambah parah, karena tidak pernah ada solusi, sedangkan jumlah penduduk terus bertambah. Bagaimana ribuan penduduk miskin yang antre BLSM sampai terinjak-injak seperti di Tangerang belum lama ini. Ini semua akibat jumlah penduduk yang makin tidak terkendali, akibatnya kemiskinan pun semakin susah pula dikendalikan karena rendahnya SDM dari penduduk itu sendiri. Akhirnya seperti lingkaran setan, dimana keluarga miskin menghasilkan anak-anak yang tidak berpendidikan, dan anak-anak tersebut nantinya akan memproduksi generasi yang demikian juga. Oleh karena itu pengendalian jumlah penduduk harus ditangani dengan sangat serius oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sekarang ini program ini banyak diabaikan oleh pemerintah pusat dan daerah karena dipandang tidak penting, karena manfaaatnya tidak dapat langsung dilihat dan dirasakan dalam periode 5 tahun jabatan politik.

Published in Banten Ekspres Juli 2013

Saturday, 25 May 2013

Mengejar Mimpi Dunia Pendidikan Kita



Mengejar Mimpi Dunia Pendidikan Kita
Drs. H. Bambang P. Sumo, MA
Pemerhati Masalah Sosial, Budaya, dan Politik – Tinggal di Jakarta


Bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional di bulan Mei ini justru dunia pendidikan tertampar dengan citra buruk. Hiruk pikuk masalah kurikulum baru tahun 2013 belum usai, tapi telanjur tenggelam oleh pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang kacau balau dan berdampak terhadap mundurnya seorang pejabat eselon 1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ada 11 provinsi yang mengalami penundaan UN karena bahan UN belum selesai dicetak, lebih celaka lagi bahan UN yang sudah selesai dicetak banyak mengalami masalah  dalam distribusinya. Akibatnya di beberapa daerah pada saat peserta UN-nya sudah siap tetapi soal UN-nya tidak kunjung datang. Disini yang menjadi biang kerok carut-marutnya pelaksanaan UN tahun 2013 ini adalah masalah pencetakan soal UN dan masalah distribusinya. Seharusnya masalah teknis semacam ini tidak perlu terjadi bila perencanaan, persiapan, pelaksanaan pencetakan dan distribusinya terus-menerus dimonitor dan mendapat pengawasan yang ketat. Tampaknya sistem pengawasan internalnya tidak jalan, setiap jenjang kepemimpinan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hanya menyerahkan pada pejabat/staf yang ada di level di bawahnya tanpa mengecek langsung setiap tahapan pekerjaan. Di pihak lain kompetensi percetakannya juga diragukan. Sebetulnya dengan adanya Kurikulum Baru 2013 dan UN ini, pemerintah ingin mengejar mimpi di dunia pendidikan yaitu peningkatan kualitas pendidikan, meskipun pemerataan pendidikan saja bagi warga masyarakat kita masih belum tercapai. Lalu bagaimana kita bisa mengejar kualitas pendidikan bila hal-hal teknis semacam ini tidak bisa kita tangani dengan baik.
 Untuk mengejar kualitas pendidikan sudah barang tentu kita harus merunutnya dari mulai tahapan input dan prosesnya, dan dari situ kita akan mendapatkan output yang kita harapkan. Apa sajakah yang masuk dalam variable input yang akan mempengaruhi output yang kita tuju yaitu kualitas pendidikan, antara lain sarana-prasarana pendidikan, murid, guru, kurikulum, buku-buku, bahan ajar,  dan sebagainya. Di pihak lain meskipun inputnya bagus bila variable prosesnya seperti media pembelajaran, bagaimana guru melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, bagaimana siswa atau peserta didik  menerima atau menyerap materi ajar,  suasana kelas, dan sebagainya, tidak dilaksanakan dengan baik, maka tujuan yang kita harapkan tidak akan tercapai, demikian pula sebaliknya. Sehingga dua variable tersebut harus  berjalan secara simultan dengan baik bila kita menginginkan terjadi peningkatan kualitas pendidikan. Itu juga tidak mudah karena masih ada faktor-faktor eksternal  lainnya yang sedikit banyak ikut mempengaruhinya. 

 Masalah Input
Kalau kita mengamati gedung-gedung sekolah di berbagai wilayah baik mencakup wilayah kabupaten/kota atau provinsi, maka kondisinya bisa dikatakan belum memenuhi  standar sarana pendidikan yang ideal. Bahkan untuk gedung sekolah atau sarana pendidikan dari sekolah-sekolah yang disebut unggulan atau bahkan beberapa waktu yang lalu ada yang disebut RSBI/sekolah berstandar internasional, ternyata juga belum mencapai standar ideal apalagi bila dibanding dengan negara-negara maju. Di dalam satu kota saja kondisinya seringkali berbeda jauh antara bumi langit, bahkan yang menyedihkan ada sekolahan yang dekat dengan ibukota negara ataupun ibukota propinsi ataupun pusat pemerintahan kabupaten/kota dalam kondisi yang tidak layak. Belum lagi kalau kita bicara fasilitas sekolahan seperti  kecukupan ruang kelas, halaman sekolah untuk bermain, lapangan upacara/sarana olah raga, perpustakaan, laboratorium, klinik sekolah dan saran lainnya yang digunakan untuk proses belajar – mengajar di sekolah. Demikian juga kondisi para gurunya, meskipun telah dilakukan sertifikasi tetapi tetap saja kualitasnya masih beragam dan belum sesuai dengan yang diinginkan. Apalagi untuk sekolah-sekolah di daerah dan di wilayah terpencil. SDM guru masih jadi hambatan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Di pihak lain kondisi siswa juga beragam, untuk sekolah unggulan  memang lebih beruntung bisa mendapatkan siswa yang secara akademik unggul juga atau bisa mendapat bibit siswa yang pandai. Dan sudah barangtentu lebih memudahkan pihak sekolah untuk mencetak lulusan yang berkualitas. Apalagi ditambah, biasanya sekolah-sekolah unggulan tersebut mendapat SDM guru yang juga bagus. Dengan SDM guru yang berkualitas baik dan adanya input siswa yang unggulan, sudan tentu akan lebih memudahkan dalam proses belajar-mengajar. Sehingga sekolah-sekolah tersebut biasanya menghasilkan lulusan-lulusan terbaik, baik bisa mudah diterima di jenjang pendidikan yang lebih tinggi samapai perguruan tinggi, ataupun bahkan banyak yang terserap di pasar kerja dan menjadi rebutan perusahaan atau instansi ternama. Disamping itu baik tidaknya kualitas pendidikan juga tergantung dari kurikulum yang ada, apakah sudah sesuai dengan tujuan pendidikan kita, apa sih yang ingin kita capai. Apakah kurikulum itu hanya menampung sampah kepentingan berbagai pihak yang ingin diakomodasikan kepentingannya supaya menjadi bahan ajar dan masuk kurikulum. Akhirnya murid menjadi korban karena kelebihan beban dan ilmu yang didapat tidak jelas. Juga buku-buku ajar yang sarat kepentingan, sehingga kualitasnya masih bisa diperdebatkan.

Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar banyak kaitannya dengan kreativitas dan kualitas para guru. Ada guru yang asal ngajar, ngomong sendiri atau seperti  ngoceh tanpa mau tahu bahwa peserta didiknya paham atau tidak materi yang diajarkan. Ada yang hanya menulis terus di papan tulis atau white board. Ada yang memberi materi kemudian ditinggal pergi. Ada yang setiap hari marah-marah terus, karena masalah keluarga dibawa-bawa ke ruang kelas. Tapi banyak juga guru yang sudah siap dengan media pembelajaran dan materi ajar yang inovatif dan kreatif sehingga menarik dan mudah dipahami siswa. Banyak juga guru yang mengajar dengan dibarengi observasi langsung ke lapangan atau melihat langsung contoh di alam terbuka . banyak hal bisa dilakukan oleh guru-guru kreatif untuk menunjang pemahaman proses belajar-mengajar. Mereka juga bisa membangun suasana kelas dengan baik, sehingga para siswanya merasa nyaman dan penuh perhatian serta merasa ingin tahu dan mau mempelajarinya dengan baik. Pemahaman akan psikologi pendidikan, khususnya kondisi psikologis para siswanya sangatlah penting.  Di abad teknologi sekarang ini sudah barang tentu teknologi informasi dapat didayagunakan semaksimal mungkin untuk menunjang proses belajar para siswa. Sekarang ini para guru dan siswa dapat mencari acuan untuk materi pembelajaran dari internet, sehingga mereka bisa lebih kaya referensi dan juga materinya mendapat yang terkini. 

Menuju Kualitas Pendidikan
 Meskipun faktor input dan proses telah kita benahi dengan baik, dan itu tentunya memerlukan proses yang panjang karena permasalahan pendidikan di Indonesia begitu kompleks, tapi tidak begitu saja kualitas pendidikan akan langsung meningkat di Indonesia. Hal ini disebabkan masalah pemerataan pendidikanpun masih menjadi pekerjaaan rumah yang luar biasa. Masih banyak daerah yang warganya kesulitaan akses untuk memasuki lembaga pendidikan dasar, apalagi untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Hal-hal lain yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah faktor-faktor eksternal, baik berupa peraturan perundang-undangan, perda, kebijakan elite pendidikan  baik di pusat maupun di daerah, kebijakan kementerian dan para kepala daerah, target kelulusan, dan lain-lain. Misalnya, dengan adanya target kelulusan baik secara eksplisit maupun implisit, karena menyangkut prestise atau gengsi kepala daerah, juga adanya penghargaan dari instansi yang diatasnya, dalam kaitan dengan persentase kelulusan siswa. Akhirnya, mereka secara tidak langsung menekan Kepala Dinas Pendidikan, agar daerahnya mencapai kelulusan 100 % atau minimal 98-99%. Selanjutnya kepala dinas menekan baik secara halus atau vulgar ke para kepala sekolah. Hasilnya rekayasa kelulusan secara massal yang dilakukan dengan berbagai variasi teknik rekayasa, supaya semua sekolah mencapai kelulusan 100% atau minimal 98%.   Makanya jadi aneh, bagaimana bisa semua siswa sekolah lulus 100%. Benarkah mereka atau siswa itu pintar-pintar semua, benarkah kualitas pendidikan kita telah meningkat cukup signifikan karena ternyata para siswa telah semuanya menyerap materi ajar. Bisakah kita dengan bangganya, dengan menepuk dada, mengatakan bahwa kualitas pendidikan kita telah baik dan para siswa yang lulus telah memiliki kualitas yang cukup tinggi. Bisakah para elite pendidikan, para kepala daerah dan mereka yang mengelola lembaga-lembaga pendidikan menyombongkan diri dengan berkata:”Kita telah berhasil membangun dunia pendidikan kita, sehingga kualitas pendidikan telah mencapai derajad yang tinggi”. Oleh karena itu, Hari Kebangkitan Nasional ini bisa menjadi momentum pula terhadap bangkitnya dunia pendidikan Indonesia, yang telah disokong dengan anggaran yang sangat besar, sebesar minimal 20% dari APBN atau APBD. Melalui dunia pendidikan  diharapkan akan terwujud manusia Indonesia yang pandai dan berkarakter serta paham akan budaya bangsanya, dengan jiwa nasionalisme yang tinggi.


Sunday, 5 May 2013

Blusukan dari Wilayah Cina Selatan Sampai Utara


Shanghai Kota Terbesar di China yang Makin Meraksasa

Drs.H. Bambang P. Sumo, MA


Langit cerah dengan udara sejuk sekitar 17 derajad celsius sepoi-sepoi membelai wajah begitu kita menjejakkan kaki di Bandara Internasional Pudong Shanghai setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan sekitar 7 jam dari Jakarta, dan penerbangan sempat delayed selama 3 jam di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Baru terbang dari Jakarta sekitar jam 3 dini hari dari rencana penerbangan sebelumnya tengah malam jam 24.00. Dari Bandara Pudong ke pusat kota Shanghai bisa dilakukan dengan kereta Shanghai Maglev Train, yang merupakan transportasi kota yang paling praktis.
Shanghai merupakan kota terbesar di China dengan penduduk 22 juta jiwa melebihi penduduk Beijing yang 20 juta. Kota ini memiliki sejarah panjang dimana di masa lalu pernah dalam cengkeraman Inggris dan Jepang, dan pernah diporakporandakan sehingga kondisi kota sempat rusak parah. Sekarang Shanghai tumbuh secara signifikan menjadi kota industri, keuangan, perdagangan dan jasa, bahkan kemungkinan dalam sepuluh tahun ke depan bisa menyaingi Tokyo atau bahkan melebihinya, atau bisa jadi menjadi kota terbesar dan pusat bisnis di Asia. Hal ini bukan tidak mungkin mengingat pertumbuhan kota ini sangat luar biasa, dari tadinya sebagian besar rawa-rawa menjadi kota yang indah dengan bangunan sekitar 300 gedung-gedung pencakar langit modern. Kota ini juga memiliki banyak miliarder terkenal di China yang tinggal dan berbisnis di kota Shanghai, termasuk miliarder perempuan terkaya di dunia.

 Gemerlap di Malam Hari
Kota Shanghai terdiri dari kota lama dinamai kawasan Puxi dan kota baru yang disebut Pudong yang dibelah oleh sungai besar Huangpu yang relatif bersih,  di kawasan Puxi kita akan banyak menemui bangunan-bangunan peninggalan masa lalu yang jadi pengingat sejarah kota Shanghai, sedangkan di kota baru merupakan simbol kedigdayaan China modern yang saat ini mulai menggeliat menjadi raksasa ekonomi dunia. Citra geliat raksasa ekonomi dan bisnis modern di Shanghai bisa dilihat dari tempat-tempat hiburan yang tumbuh menjamur seiring dengan kebutuhan kota bisnis yang menjadi lalulintas para pelaku bisnis dari berbagai Negara. Situasi ini  juga tentunya mempengaruhi  gaya hidup masyarakat China di Shanghai yang telah berubah, mereka tak ubahnya remaja atau eksekutif muda di belahan Barat sana. Di malam hari Shanghai berubah menjadi gadis cantik yang penuh make up dengan pakaian yang ngejreng, gemerlap taburan lampu warna-warni memenuhi gedung-gedung di kota Shanghai termasuk Oriental TV Tower yang menjadi salah satu ikon kota besar ini.
Keindahan kota Shanghai bisa kita nikmati dengan ikut night cruising atau berlayar di malam hari mengarungi sungai Huangpu yang membelah kota. Sungai ini memiliki panjang 114 kilometer dan lebar kira-kira 400 meter atau bisa ditempati sepuluh kapal cukup besar berjajar di tempat tersebut, dan cukup dalam sehingga kapal pesiar mewah besar yang bertingkat lima bisa berlayar di sungai ini. Dari atas kapal kita bisa duduk-duduk di dek kapal atau dari dalam ruangan duduk kapal untuk menikmati suasana malam dan gemerlapnya warna-warni sorotan lampu gedung-gedung tinggi di kota Shanghai. Ini menjadi pengalaman yang luar biasa, karena ini mungkin satu-satunya tempat di dunia dimana kita bisa cruising di malam hari di tengah kota dengan semacam kapal pesiar. Kalau di tempat lain, seperti pengalaman penulis, misal dinner cruising di Baltimore dan di Bali yang cruisingnya di teluk atau pantai bukan dalam suasana menikmati gemerlapnya kota.

Penduduk dan Transportasi Kota  
Kota Shanghai yang berada di wilayah China bagian Selatan kalau musim panas suhunya bisa panas sekali sekitar 42 derajad Celsius, memiliki karakteristik penduduk yang berbeda dengan penduduk China yang berada di utara seperti Beijing. Para pria Selatan ini lebih lembut dibanding dengan para pria dari  Beijing yang lebih keras dan dominan. Justru perempuan Selatan lebih keras dan dominan, makanya bagi para cewe carilah pria Shanghai yang lebih lembut dan romantis.  Di sisi lain kebijakan kependudukan di China masih menerapkan “One family one child”, kebijakan satu anak. Namun kebijakan ini sekarang agak diperlonggar khususnya di daerah pedesaaan yang sekarang ini mulai kekurangan tenaga kerja yang menggarap pertanian, di pedesaan setiap keluarga diperbolehkan memiliki dua anak.  
Gaya hidup para keluarga di Shanghai sekarang telah mengalami banyak perubahan, kalau generasi sebelumnya yang tua-tua harus kerja keras untuk mengejar kemakmuran, maka generasi anak-anak merupakan generasi penikmat kekayaan yang lebih manja. Sebelumnya dua dekade lalu, masyarakat China sulit untuk memiliki kekayaan, tapi sekarang bahkan banyak yang kaya raya dan menjadi konglomerat dunia. Sekarang para keluarga di perkotaan China seperti Shanghai banyak yang memasukkan anaknya untuk belajar ballet dan musik, yang mungkin tidak akan kita temui di masa lalu. Masyarakat China sekarang adalah berbadan komunis berwajah kapitalis.
Kota Shanghai meskipun menjadi kota terbesar di China dengan jumlah penduduk melebihi Beijing, akan tetapi kita tidak pernah terlihat kemacetan lalulintas separah dan sesemrawut seperti Jakarta. Kemacetan terjadi terjadi di beberapa tempat pada saat jam berangkat dan pulang kerja, tapi masih teratur. Sarana transportasi publik yang ada adalah bus kota, taxi, kereta api dan subway atau kereta bawah tanah. Yang membedakan dengan kota-kota di Indonesia, kita di China tidak banyak menemui sepeda motor ada di jalan raya. Penduduk umumnya memanfaatkan public transportation yang tidak terlalu mahal. Mobil di China harganya murah tetapi pajak kendaraannya mahal dan biaya parkirnya tinggi.

Belanja dan Wisata
Membicarakan Shanghai mau tidak mau kita harus bicara juga tentang belanja dan wisata. Tentu ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, tanpa belaja dan wisata tidak lengkap dalam menikmati kota Shanghai. Tempat yang paling banyak dikunjungi turis baik domestic China maupun asing adalah Nanjing Road. Sepanjang jalan ini penuh dengan toko-toko pakaian, toko makanan, toko souvenir dan restoran. Toko-toko yang punya branded mendunia juga banyak kita temui di sini, demikian juga resto semacam Mc Donald dan KFC atau tempat minum kopi Starbucks yang banyak kita temui di China khususnya di tempat-tempat wisata. Di Nanjing road ini juga terdapat Subway station.
Tempat wisata di Shanghai yang cukup menarik adalah Yu Yuan Garden, di area yang cukup luas ini banyak kita temui para penjual souvenir di suatu area pertokoan yang didisain dengan gaya khas rumah tradisional China dengan kualitas tinggi dan lingkungan yang sangat bersih. Ya memang secara keseluruhan kota Shanghai, juga kota-kota di China yang penulis kunjungi umumnya tertata rapi infrastrukturnya dan bersih. Selanjutnya tempat yang paling banyak juga dikunjungi turis adalah sebuah taman di tengah kota di tepi sungai Huangpu yang membelah kota Shanghai dengan latar belakang Oriental TV Tower. Tempat ini dijadikan tempat untuk mengabadikan kunjungan kita di kota Shanghai, sebagai “photo stop”. Oleh karena tempat ini memiliki background landscape kota yang menarik, maka juga banyak didatangi calon pengantin untuk pemotretan pre-wedding. Masih banyak tempat wisata lain yang pantas untuk dikunjungi, termasuk wisata kuliner di Shanghai. Shanghai memang layak dikunjungi, dan wisata disini dikemas dengan sangat baik. Kapankah wisata di Indonesia bisa dikemas dengan baik dan termasuk infrastrukturnya?

Published in Banten Ekspres April 2013.

Hangzhou dan Suzhou Menjadi Model Kota Budaya yang Indah











Berbeda dengan Shanghai yang merupakan kota besar yang padat penduduk yang penuh hiruk pikuk, Kota Hangzhou (baca: hang-cow) menjadi kontras baik dalam skala besar dan situasi kotanya. Hangzhou bisa dikatakan sebagai kota alternatif bagi penduduk Shanghai untuk menghilangkan kepenatan rutin sehari- hari dari desahan kota megapolitan. Jarak Shanghai ke Hangzhou hampir sama dengan satu setengah kali perjalanan Jakarta - Bandung yang bisa ditempuh dengan bus melalui jaringan tollway yang cukup nyaman sekitar 3,5 jam. Hangzhou menjadi kota peristirahatan yang sejuk, dengan suhu yang lebih dingin dibanding dengan Shanghai pada bulan Maret lalu atau menjelang Spring atau musim semi, suhu waktu itu di Hangzhou sekitar 12 derajad Celsius sedangkan Shanghai 17 derajat.
                                                                             




Kota Surga
Tidak salah kalau Kota Hangzhou disebut laksana surga. Oleh karena itu ada pameo terkenal masyarakat Hangzhou, yang 
mengatakan:”Di atas langit ada surga, di atas bumi ada Kota Hangzhou”. Keindahan itu makin terasa pada saat menjelang musim semi di Hangzhou yang bergunung-gunung dengan perkebunan tehnya (teh hijaunya sangat terkenal) dan dikelilingi pepohonan hijau di seluruh kotanya, ya terasa sangat indah. Di sepanjang jalan dan di taman-taman kota dipenuhi tanaman bunga Sakura dan bunga Persik yang mulai berbunga, cantik sekali. Ternyata Sakura bukan monopoli Jepang saja yang berjuluk negeri Sakura tapi di beberapa kota di Cina pun bunga Sakura menghiasi taman-taman dan jalan-jalan. Kota Hangzhou merupakan kota kuno yang telah berusia 2.200 tahun, mulai dibangun oleh Dinasti Song. Kota kembarannya adalah Suzhou (baca: Su-cow), dapat ditempuh selama dua jam perjalanan darat dengan bus melalui jalan tol. Suzhou juga merupakan kota legenda yang sudah tua atau usianya sudah 2.500 tahun, lebih tua dan saat itu lebih dingin dari Hangzhou. Konon jaman dulu merupakan kota untuk tetirah para raja di Beijing, dengan menempuh perjalanan selama berhari-hari melalui sungai. Berada di kota-kota ini, kita jadi teringat dengan kota Bogor dan Puncak, cuma saja kota Hangzhou dan Suzhou ini lebih teratur, bersih dan indah. Lalu lintas di kota-kota di China pada umumnya lebih teratur dibanding di Indonesia. Di China alat transportasi yang ada adalah bus kota, trem, taxi, subway, kereta, sedangkan masyarakat sangat sedikit sekali yang menggunakan sepeda motor. Sangat sedikitnya sepeda motor di China karena sepeda motor dianggap rentan terhadap kecelakaan dan masyarakat banyak menggunakan public transportation. Jalan- jalan tertata dengan baik, dan banyak trotoar untuk pejalan kaki dibangun di sepanjang kali, sedangkan antara jalan dan trotoar dipisahkan oleh taman yang banyak ditanami bunga Sakura dan Persik. Melihat itu kita menjadi sangat iri, dimana para pejalan kaki di China ini dimanja dengan sarana yang nyaman. Sebaliknya di negeri kita, para pejalan kaki sudah tidak dianggap lagi. Kalau toh ada trotoar untuk pejalan kaki, sarana tersebut sudah diokupasi oleh pedagang kaki lima, bahkan malah digunakan para pengguna sepeda motor yang jumlahnya sudah diluar batas dan perilaku berkendaraannya tanpa etika dan aturan.

Dari Sam Pek Engthay Sampai Ayam Pengemis
Sam Pek Engthay merupakan legenda Romeo dan Juliet ala China yang sangat terkenal di Hangzhou, bahkan di China dan juga terkenal di luar China. Di Indonesia pun banyak masyarakat yang mengenal legenda percintaan yang berakhir tragis tersebut. Bahkan Nano Riantiarno telah mementaskan cerita tersebut dengan versi teaternya berkali kali. Masyarakat dapat melihat pementasan opera Sam Pek Engthay yang sangat indah di gedung yang megah dengan membayar tiket 280 Yuan atau sekitar Rp 450.000, melalui sajian tarian dan nyanyian dukungan multimedia yang luar biasa. Wisata di China memang telah dikelola dengan baik, juga infrastruktur pendukung pariwisata pun telah tertata dengan baik.
Legenda lainnya dari Hangzhou yang sangat terkenal, bahkan sudah difilmkan dan popular di Indonesia adalah legenda Siluman Ular Putih di West Lake atau Danau Xi Hu yang luasnya 6,7 kilometer persegi. Di danau ini juga terkenal dengan legenda jembatan putus, dan jembatan tersebut sampai kini masih ada dan sebetulnya jembatan tersebut tidak putus hanya sebagian tertutup salju. Sampai sekarang banyak orang yang masih ingat film Siluman Ular Putih yang sempat menjadi tontonan favorit di Indonesia tersebut.  Sedangkan Suzhou terkenal dengan pabrik suteranya, di sini ada mulai dari ternak ulat sutera sampai membuat sutera dan produk barangnya, juga toko untuk produknya. Proses pembuatan sutera ini telah dikemas dengan menarik menjadi obyek wisata, dan wisatawanpun digiring untuk membeli produk-produknya yang dijual di toko di area pabrik tersebut. Bisakah kita meniru seperti ini dan sebetulnya banyak hal di negeri kita yang bisa dikemas menjadi obyek wisata yang menarik.
Hangzhou juga terkenal dengan pahlawannya, yaitu pahlawan bangsa China, Yue Fei, yang berasal dari desa  Kungfu,  Desa Henan. Kepahlawanannya diabadikan dalam bentuk kuil yang disebut Yue Fei Temple. Dalam soal makanan, Hangzhou terkenal dengan makanannya yang enak-enak, salah satunya adalah “beggar chicken” atau ayam pengemis. Konon di jaman itu ada seorang pengemis yang kelaparan, kemudian pengemis tersebut karena sudah tidak tahan lagi menahan lapar, dia mencuri ayam di rumah penduduk dan memasaknya dengan cara dikukus dengan daun teratai. Pada saat dia memasak tersebut, bau wangi masakannya sampai kemana-mana yang membuat penduduk mencari-cari sumber bau masakan yang enak tersebut. Ternyata ada seorang pengemis sedang memasak ayam yang dikukus dengan daun teratai, maka terkenallah masakan tersebut dengan “Ayam Pengemis”. Ini sebetulnya seperti ayam pepes yang dibungkus daun teratai. Di negeri kita dan daerah-daerah lain seperti Banten sebetulnya banyak makanan khas yang dapat dikemas lebih menarik untuk dikenalkan kepada para wisatawan.

Naik Bullet Train ke Beijing, Simbol Keberhasilan Program Transportasi China










Anomali cuaca terjadi di China dan juga di belahan dunia  yang lain, kalau pertengahan bulan Maret lalu di beberapa kota di China seharusnya sudah memasuki awal Spring atau musim semi yang indah, tapi minggu ketiga Maret lalu masih terasa sisa-sisa Winter atau musim dingin. Sisa-sisa salju masih kita temui pada siang hari di Kota Terlarang atau Forbidden City dan Lapangan Tianamen yang menjadi pusat pemerintah dan politik China. Di Beijing salju masih turun secara sporadis  dan suhu bisa mencapai minus 4, keadaan itu juga terjadi di belahan dunia lain seperti di Jerman. Teman penulis Mbak Pepeng yang tinggal bersama suaminya yang alumnus ITB di Desa Pinneberg pinggiran Kota Hamburg mengatakan kalau salju di rumahnya masih tebal dan dia harus terus-menerus membersihkan salju, padahal pemerintah sudah mengumumkan kalau Jerman sudah memasuki Spring. Tinggal dan berlibur di akhir musim dingin dan menjelang musim semi di wilayah China Selatan sampai Utara  atau katakan dari Shanghai sampai Beijing terasa nyaman. Menjelang musim semi ini pohon-pohon Sakura dan Persik yang ditanam di sepanjang kota Hangzhou, Suzhou dan Beijing sudah mulai berbunga ditambah keindahan tanaman kayu lainnya yang daunnya berguguran belum bersemi, dan yang aneh tanaman sejenis cemara daunnya tidak gugur di musim dingin.

 Infrastruktur di China
Jalan-jalan yang menghubungkan antar kota umumnya mulus dan lebar, jaringan jalan tol juga secara luas dan besar-besaran dibangun untuk mempercepat hubungan antar wilayah dan kota serta untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Jalan tol di sini umumnya menggunakan model kartu akses yang tidak perlu antri bila memasuki atau keluar tol, karena sudah membayar deposit untuk tol, sehingga tidak terjadi antrian panjang di tol. Jalan-jalan dalam kota pun lebar-lebar dan mulus, di sepanjang jalan ditanami pohon-pohon penghijauan yang indah dan juga banyak terdapat ruang terbuka hijau. Jalan-jalan di kota Beijing yang ditempati oleh 20 juta penduduk terasa penuh apalagi pada jam-jam kerja, namun meskipun kemacetan cukup parah khususnya pada jam sibuk, tapi kendaraan masih cukup teratur dan antri rapi, tidak seperti di Jakarta yang semrawut. Jalan-jalan kota dibangun bertingkat-tingkat untuk memberi akses kepada kendaraan, tapi tetap saja jalan raya terasa tidak mencukupi. Pemerintah kota Beijing juga mengembangkan moda transportasi lainnya seperti subway atau kereta bawah tanah, selain bus kota. Moda transportasi melalui kereta api dikembangkan secara intensif dan besar-besaran, panjang jalur kereta di China saat ini ada 90 ribu kilometer bandingkan dengan Indonesia yang hanya 6000 kilometer, malahan jalur-jalur kereta api yang dulu pernah ada sekarang banyak yang hilang dan pembangunan double track Jakarta-Surabaya saja tidak pernah rampung-rampung. Malahan China sekarang mengembangkan kereta super cepat atau bullet train(China Railway Highspeed), yang diresmikan pada 7 januari 2012, ke seluruh wilayah China, bahkan kemungkinan di masa depan akan terhubung dengan India dan Negara-negara di Asia atau bahkan sampai Moskow. Untuk ini pemerintah China mengklaim memiliki bullet train terbanyak serta tercepat (300 kilometer per jam) di dunia. Ketika penulis mencoba naik kereta peluru/bullet train yang betul-betul bentuk fisiknya seperti peluru dengan warna silver terang dengan garis biru sedangkan interior dalamnya menggunakan kursi jok beludru biru yang sangat nyaman dan longgar,  dari Kota Suzhou ke Beijing yang berjarak sekitar 1.500 kilometer, perjalanan yang ditempuh selama 5jam terasa menyenangkan karena serasa naik mobil Alphard tanpa suara dan goncangan, selain itu juga didalam kereta terpasang heater sehingga cuaca dingin di luar kereta tidak terasa. Di kereta para penumpang bisa beli makanan atau minuman, atau malahan kita boleh minta air panas bila kita sudah bawa kopi sachet atau mie cup. Membayangkan kereta peluru bisa dibangun di Indonesia menjadi terasa mimpi, karena perkeretaapian yang ada saja terasa ketinggalan jaman dan jalur kereta api yang ada juga tidak pernah bertambah. Kebijakan perkeretaapian di negeri kita tercinta ini terasa tidak jelas mau ke arah mana, dan kelihatannya akan sulit untuk berkembang selama masih ada dua nahkoda yang mengurusi masalah kereta api, yaitu PT. KAI  yang dinahkodai oleh Ignatius Jonan sebagai operator dan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan yang bertanggung jawab untuk infrastrukturnya. Padahal di negeri yang besar dan luas ini moda kereta api bisa digunakan untuk angkutan massal yang cepat bagi penumpang dan barang.

Kebijakan Perumahan
Ketika naik bus dari Shanghai ke Hangzhou melalui jalan tol, sepanjang perjalanan di kanan-kiri jalan tol bisa kita temui banyak apartemen kelas menengah baik yang sudah berdiri amaupun sedang dalam proses pembangunan. Kebijakan perumahan Pemerintah China lebih mengarah pada pembangunan rumah vertikal dibandingkan landed house. Oleh karena itu pemerintah telah banyak membangun apartemen bagi warganya. Namun dari pandangan mata yang kita temui di sepanjang jalan tersebut banyak sekali ditemui apartemen yang kosong melompong tanpa penghuni. Menurut temen penulis yang warga Hanzhou, katanya orang banyak yang tidak mau tinggal di pinggir kota Shanghai karena jauh dari tempat kerja. Kalau di tengah kota Shanghai banyak kita temui juga apartemen-apartemen mewah dan kelas menengah. Di apartemen kelas menengah-bawah ini banyak ditemui jemuran-jemuran pakaian yang menggantung menghiasi apartemen, berbeda dengan di Beijing yang hampir tidak kita temui gantungan jemuran baju terjuntai di apartemen karena ada peraturan pemerintah kota yang melarang penghuni apartemen menggantung jemuran di apartemen. Kebijakan tentang vertical houses atau model apartemen ini seharusnya sudah menjadi kebijakan pemerintah Indonesia dalam masalah perumahan, mengingat lahan untuk perumahan yang makin terbatas sehingga sekarang ini pembangunan perumahan ataupun industrial estates banyak merambah tanah-tanah produktif dan tanah resapan ataupun perbukitan atau daerah yang seharusnya untuk penghijauan. Padahal dahulu pada waktu awal-awal Perumnas berdiri, mereka waktu itu mempunyai kebijakan membangun flat-flat bertingkat seperti di Perumnas Klender Jakarta, tapi kebijakan itu tidak berlanjut malahan membangun rumah-rumah batako kecil-kecil.

Pemerintah China juga mempunyai kebijakan yang cukup tegas tentang perumahan, dimana setiap orang yang belum berkeluarga hanya diperbolehkan memiliki satu rumah, sedangkan bagi warga Beijing dan Shanghai yang sudah berumah tangga, ada peraturan bahwa mereka boleh memiliki rumah kedua (sebagai batas kepemilikan rumah) dengan catatan rumah kedua akan kena pajak yang tinggi. Jadi tidak seperti di Indonesia bahwa setiap orang atau keluarga bisa memiliki rumah sebanyak-banyaknya. Mungkin ada baiknya juga kalau pemerintah Indonesia dalam kaitan dengan pemerataan kepemilikan rumah dan keterbatasan lahan serta untuk menjaga kelestarian lingkungan, karena banyak warga masyarakat yang belum memiliki rumah, pemerintah bisa menerapkan kebijakan pembatasan kepemilikan rumah.
Kemajuan China di berbagai bidang memang luar biasa, ekonomi China tumbuh pesat dan tertinggi di dunia meskipun sekarang agak melambat, pada saat perekonomian Eropa juga Amerika Serikat terpuruk. Kemajuan China diawali pada saat Deng Xiaoping  pada tahun 1978, dan dia harus memberesi dampak dari carut marutnya Revolusi Kebudayaan, melalui Revolusi Kedua atau “Second Revolution” dia menerapkan kebijakan ekonomi atau economic reforms, dan kebijakan yang mengarah pada stabilitas politik dan keamanan telah membawa kemajuan China menjadi disegani oleh Negara-negara lain di dunia. Deng telah membuka diri terhadap dunia dan ekonomi China mulai diorientasikan ke ekonomi pasar. Dialah peletak dasar China modern. Indonesia ada peluang mengejar kemajuan China asal kita memang focus dan serius dalam membangun negeri ini, tidak hanya sibuk berwacana politik dan rebut terus, bukan menjadi bangsa yang pintar berbicara dan teriak-teriak tapi tidak mau bekerja keras.