Monday, 14 August 2017

Shanghai Kota Terbesar di China

Shanghai Kota Terbesar di China yang Makin Meraksasa


Langit cerah dengan udara sejuk sekitar 17 derajad celsius sepoi-sepoi membelai wajah begitu kita menjejakkan kaki di Bandara Internasional Pudong Shanghai setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan sekitar 7 jam dari Jakarta, dan penerbangan sempat delayed selama 3 jam di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Baru terbang dari Jakarta sekitar jam 3 dini hari dari rencana penerbangan sebelumnya tengah malam jam 24.00. Dari Bandara Pudong ke pusat kota Shanghai bisa dilakukan dengan kereta Shanghai Maglev Train, yang merupakan transportasi kota yang paling praktis.
Shanghai merupakan kota terbesar di China dengan penduduk 22 juta jiwa melebihi penduduk Beijing yang 20 juta. Kota ini memiliki sejarah panjang dimana di masa lalu pernah dalam cengkeraman Inggris dan Jepang, dan pernah diporakporandakan sehingga kondisi kota sempat rusak parah. Sekarang Shanghai tumbuh secara signifikan menjadi kota industri, keuangan, perdagangan dan jasa, bahkan kemungkinan dalam sepuluh tahun ke depan bisa menyaingi Tokyo atau bahkan melebihinya, atau bisa jadi menjadi kota terbesar dan pusat bisnis di Asia. Hal ini bukan tidak mungkin mengingat pertumbuhan kota ini sangat luar biasa, dari tadinya sebagian besar rawa-rawa menjadi kota yang indah dengan bangunan sekitar 300 gedung-gedung pencakar langit modern. Kota ini juga memiliki banyak miliarder terkenal di China yang tinggal dan berbisnis di kota Shanghai, termasuk miliarder perempuan terkaya di dunia.

Gemerlap di Malam Hari
Kota Shanghai terdiri dari kota lama dinamai kawasan Puxi dan kota baru yang disebut Pudong yang dibelah oleh sungai besar Huangpu yang relatif bersih,  di kawasan Puxi kita akan banyak menemui bangunan-bangunan peninggalan masa lalu yang jadi pengingat sejarah kota Shanghai, sedangkan di kota baru merupakan simbol kedigdayaan China modern yang saat ini mulai menggeliat menjadi raksasa ekonomi dunia. Citra geliat raksasa ekonomi dan bisnis modern di Shanghai bisa dilihat dari tempat-tempat hiburan yang tumbuh menjamur seiring dengan kebutuhan kota bisnis yang menjadi lalulintas para pelaku bisnis dari berbagai Negara. Situasi ini  juga tentunya mempengaruhi  gaya hidup masyarakat China di Shanghai yang telah berubah, mereka tak ubahnya remaja atau eksekutif muda di belahan Barat sana. Di malam hari Shanghai berubah menjadi gadis cantik yang penuh make up dengan pakaian yang ngejreng, gemerlap taburan lampu warna-warni memenuhi gedung-gedung di kota Shanghai termasuk Oriental TV Tower yang menjadi salah satu ikon kota besar ini.
Keindahan kota Shanghai bisa kita nikmati dengan ikut night cruising atau berlayar di malam hari mengarungi sungai Huangpu yang membelah kota. Sungai ini memiliki panjang 114 kilometer dan lebar kira-kira 400 meter atau bisa ditempati sepuluh kapal cukup besar berjajar di tempat tersebut, dan cukup dalam sehingga kapal pesiar mewah besar yang bertingkat lima bisa berlayar di sungai ini. Dari atas kapal kita bisa duduk-duduk di dek kapal atau dari dalam ruangan duduk kapal untuk menikmati suasana malam dan gemerlapnya warna-warni sorotan lampu gedung-gedung tinggi di kota Shanghai. Ini menjadi pengalaman yang luar biasa, karena ini mungkin satu-satunya tempat di dunia dimana kita bisa cruising di malam hari di tengah kota dengan semacam kapal pesiar. Kalau di tempat lain, seperti pengalaman penulis, misal dinner cruising di Baltimore dan di Bali yang cruisingnya di teluk atau pantai bukan dalam suasana menikmati gemerlapnya kota.

Penduduk dan Transportasi Kota  
Kota Shanghai yang berada di wilayah China bagian Selatan kalau musim panas suhunya bisa panas sekali sekitar 42 derajad Celsius, memiliki karakteristik penduduk yang berbeda dengan penduduk China yang berada di utara seperti Beijing. Para pria Selatan ini lebih lembut dibanding dengan para pria dari  Beijing yang lebih keras dan dominan. Justru perempuan Selatan lebih keras dan dominan, makanya bagi para cewe carilah pria Shanghai yang lebih lembut dan romantis.  Di sisi lain kebijakan kependudukan di China masih menerapkan “One family one child”, kebijakan satu anak. Namun kebijakan ini sekarang agak diperlonggar khususnya di daerah pedesaaan yang sekarang ini mulai kekurangan tenaga kerja yang menggarap pertanian, di pedesaan setiap keluarga diperbolehkan memiliki dua anak.  
Gaya hidup para keluarga di Shanghai sekarang telah mengalami banyak perubahan, kalau generasi sebelumnya yang tua-tua harus kerja keras untuk mengejar kemakmuran, maka generasi anak-anak merupakan generasi penikmat kekayaan yang lebih manja. Sebelumnya dua dekade lalu, masyarakat China sulit untuk memiliki kekayaan, tapi sekarang bahkan banyak yang kaya raya dan menjadi konglomerat dunia. Sekarang para keluarga di perkotaan China seperti Shanghai banyak yang memasukkan anaknya untuk belajar ballet dan musik, yang mungkin tidak akan kita temui di masa lalu. Masyarakat China sekarang adalah berbadan komunis berwajah kapitalis.
Kota Shanghai meskipun menjadi kota terbesar di China dengan jumlah penduduk melebihi Beijing, akan tetapi kita tidak pernah terlihat kemacetan lalulintas separah dan sesemrawut seperti Jakarta. Kemacetan terjadi terjadi di beberapa tempat pada saat jam berangkat dan pulang kerja, tapi masih teratur. Sarana transportasi publik yang ada adalah bus kota, taxi, kereta api dan subway atau kereta bawah tanah. Yang membedakan dengan kota-kota di Indonesia, kita di China tidak banyak menemui sepeda motor ada di jalan raya. Penduduk umumnya memanfaatkan public transportation yang tidak terlalu mahal. Mobil di China harganya murah tetapi pajak kendaraannya mahal dan biaya parkirnya tinggi. 

Belanja dan Wisata
Membicarakan Shanghai mau tidak mau kita harus bicara juga tentang belanja dan wisata. Tentu ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, tanpa belaja dan wisata tidak lengkap dalam menikmati kota Shanghai. Tempat yang paling banyak dikunjungi turis baik domestic China maupun asing adalah Nanjing Road. Sepanjang jalan ini penuh dengan toko-toko pakaian, toko makanan, toko souvenir dan restoran. Toko-toko yang punya branded mendunia juga banyak kita temui di sini, demikian juga resto semacam Mc Donald dan KFC atau tempat minum kopi Starbucks yang banyak kita temui di China khususnya di tempat-tempat wisata. Di Nanjing road ini juga terdapat Subway station.
Tempat wisata di Shanghai yang cukup menarik adalah Yu Yuan Garden, di area yang cukup luas ini banyak kita temui para penjual souvenir di suatu area pertokoan yang didisain dengan gaya khas rumah tradisional China dengan kualitas tinggi dan lingkungan yang sangat bersih. Ya memang secara keseluruhan kota Shanghai, juga kota-kota di China yang penulis kunjungi umumnya tertata rapi infrastrukturnya dan bersih. Selanjutnya tempat yang paling banyak juga dikunjungi turis adalah sebuah taman di tengah kota di tepi sungai Huangpu yang membelah kota Shanghai dengan latar belakang Oriental TV Tower. Tempat ini dijadikan tempat untuk mengabadikan kunjungan kita di kota Shanghai, sebagai “photo stop”. Oleh karena tempat ini memiliki background landscape kota yang menarik, maka juga banyak didatangi calon pengantin untuk pemotretan pre-wedding. Masih banyak tempat wisata lain yang pantas untuk dikunjungi, termasuk wisata kuliner di Shanghai. Shanghai memang layak dikunjungi, dan wisata disini dikemas dengan sangat baik. Kapankah wisata di Indonesia bisa dikemas dengan baik dan termasuk infrastrukturnya?
Drs. H. Bambang P. Sumo, MA


Published in Banten Ekspres April 2013.

No comments:

Post a Comment