Shanghai Kota Terbesar
di China yang Makin Meraksasa
Langit cerah dengan udara sejuk sekitar 17 derajad celsius sepoi-sepoi
membelai wajah begitu kita menjejakkan kaki di Bandara Internasional Pudong
Shanghai setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan sekitar 7 jam dari
Jakarta, dan penerbangan sempat delayed selama 3 jam di Bandara Soekarno-Hatta
Jakarta. Baru terbang dari Jakarta sekitar jam 3 dini hari dari rencana
penerbangan sebelumnya tengah malam jam 24.00. Dari Bandara Pudong ke pusat
kota Shanghai bisa dilakukan dengan kereta Shanghai Maglev Train, yang
merupakan transportasi kota yang paling praktis.
Shanghai merupakan kota terbesar di China dengan penduduk 22
juta jiwa melebihi penduduk Beijing yang 20 juta. Kota ini memiliki sejarah
panjang dimana di masa lalu pernah dalam cengkeraman Inggris dan Jepang, dan
pernah diporakporandakan sehingga kondisi kota sempat rusak parah. Sekarang Shanghai
tumbuh secara signifikan menjadi kota industri, keuangan, perdagangan dan jasa,
bahkan kemungkinan dalam sepuluh tahun ke depan bisa menyaingi Tokyo atau
bahkan melebihinya, atau bisa jadi menjadi kota terbesar dan pusat bisnis di
Asia. Hal ini bukan tidak mungkin mengingat pertumbuhan kota ini sangat luar
biasa, dari tadinya sebagian besar rawa-rawa menjadi kota yang indah dengan
bangunan sekitar 300 gedung-gedung pencakar langit modern. Kota ini juga
memiliki banyak miliarder terkenal di China yang tinggal dan berbisnis di kota
Shanghai, termasuk miliarder perempuan terkaya di dunia.
Gemerlap di Malam
Hari
Kota Shanghai terdiri dari kota lama dinamai kawasan Puxi
dan kota baru yang disebut Pudong yang dibelah oleh sungai besar Huangpu yang relatif
bersih, di kawasan Puxi kita akan banyak
menemui bangunan-bangunan peninggalan masa lalu yang jadi pengingat sejarah
kota Shanghai, sedangkan di kota baru merupakan simbol kedigdayaan China modern
yang saat ini mulai menggeliat menjadi raksasa ekonomi dunia. Citra geliat
raksasa ekonomi dan bisnis modern di Shanghai bisa dilihat dari tempat-tempat
hiburan yang tumbuh menjamur seiring dengan kebutuhan kota bisnis yang menjadi
lalulintas para pelaku bisnis dari berbagai Negara. Situasi ini juga tentunya mempengaruhi gaya hidup masyarakat China di Shanghai yang
telah berubah, mereka tak ubahnya remaja atau eksekutif muda di belahan Barat
sana. Di malam hari Shanghai berubah menjadi gadis cantik yang penuh make up
dengan pakaian yang ngejreng, gemerlap taburan lampu warna-warni memenuhi
gedung-gedung di kota Shanghai termasuk Oriental TV Tower yang menjadi salah
satu ikon kota besar ini.
Keindahan kota Shanghai bisa kita nikmati dengan ikut night
cruising atau berlayar di malam hari mengarungi sungai Huangpu yang membelah
kota. Sungai ini memiliki panjang 114 kilometer dan lebar kira-kira 400 meter
atau bisa ditempati sepuluh kapal cukup besar berjajar di tempat tersebut, dan
cukup dalam sehingga kapal pesiar mewah besar yang bertingkat lima bisa
berlayar di sungai ini. Dari atas kapal kita bisa duduk-duduk di dek kapal atau
dari dalam ruangan duduk kapal untuk menikmati suasana malam dan gemerlapnya
warna-warni sorotan lampu gedung-gedung tinggi di kota Shanghai. Ini menjadi
pengalaman yang luar biasa, karena ini mungkin satu-satunya tempat di dunia
dimana kita bisa cruising di malam hari di tengah kota dengan semacam kapal
pesiar. Kalau di tempat lain, seperti pengalaman penulis, misal dinner cruising
di Baltimore dan di Bali yang cruisingnya di teluk atau pantai bukan dalam
suasana menikmati gemerlapnya kota.
Penduduk dan Transportasi
Kota
Kota Shanghai yang berada di wilayah China bagian Selatan kalau
musim panas suhunya bisa panas sekali sekitar 42 derajad Celsius, memiliki
karakteristik penduduk yang berbeda dengan penduduk China yang berada di utara
seperti Beijing. Para pria Selatan ini lebih lembut dibanding dengan para pria
dari Beijing yang lebih keras dan
dominan. Justru perempuan Selatan lebih keras dan dominan, makanya bagi para
cewe carilah pria Shanghai yang lebih lembut dan romantis. Di sisi lain kebijakan kependudukan di China
masih menerapkan “One family one child”, kebijakan satu anak. Namun kebijakan
ini sekarang agak diperlonggar khususnya di daerah pedesaaan yang sekarang ini
mulai kekurangan tenaga kerja yang menggarap pertanian, di pedesaan setiap keluarga
diperbolehkan memiliki dua anak.
Gaya hidup para keluarga di Shanghai sekarang telah
mengalami banyak perubahan, kalau generasi sebelumnya yang tua-tua harus kerja
keras untuk mengejar kemakmuran, maka generasi anak-anak merupakan generasi
penikmat kekayaan yang lebih manja. Sebelumnya dua dekade lalu, masyarakat
China sulit untuk memiliki kekayaan, tapi sekarang bahkan banyak yang kaya raya
dan menjadi konglomerat dunia. Sekarang para keluarga di perkotaan China
seperti Shanghai banyak yang memasukkan anaknya untuk belajar ballet dan musik,
yang mungkin tidak akan kita temui di masa lalu. Masyarakat China sekarang
adalah berbadan komunis berwajah kapitalis.
Kota Shanghai meskipun menjadi kota terbesar di China dengan
jumlah penduduk melebihi Beijing, akan tetapi kita tidak pernah terlihat
kemacetan lalulintas separah dan sesemrawut seperti Jakarta. Kemacetan terjadi
terjadi di beberapa tempat pada saat jam berangkat dan pulang kerja, tapi masih
teratur. Sarana transportasi publik yang ada adalah bus kota, taxi, kereta api
dan subway atau kereta bawah tanah. Yang membedakan dengan kota-kota di
Indonesia, kita di China tidak banyak menemui sepeda motor ada di jalan raya.
Penduduk umumnya memanfaatkan public transportation yang tidak terlalu mahal.
Mobil di China harganya murah tetapi pajak kendaraannya mahal dan biaya
parkirnya tinggi.
Belanja dan Wisata
Membicarakan Shanghai mau tidak mau kita harus bicara juga
tentang belanja dan wisata. Tentu ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, tanpa
belaja dan wisata tidak lengkap dalam menikmati kota Shanghai. Tempat yang
paling banyak dikunjungi turis baik domestic China maupun asing adalah Nanjing
Road. Sepanjang jalan ini penuh dengan toko-toko pakaian, toko makanan, toko
souvenir dan restoran. Toko-toko yang punya branded mendunia juga banyak kita
temui di sini, demikian juga resto semacam Mc Donald dan KFC atau tempat minum
kopi Starbucks yang banyak kita temui di China khususnya di tempat-tempat
wisata. Di Nanjing road ini juga terdapat Subway station.
Tempat wisata di Shanghai yang cukup menarik adalah Yu Yuan
Garden, di area yang cukup luas ini banyak kita temui para penjual souvenir di
suatu area pertokoan yang didisain dengan gaya khas rumah tradisional China
dengan kualitas tinggi dan lingkungan yang sangat bersih. Ya memang secara
keseluruhan kota Shanghai, juga kota-kota di China yang penulis kunjungi
umumnya tertata rapi infrastrukturnya dan bersih. Selanjutnya tempat yang
paling banyak juga dikunjungi turis adalah sebuah taman di tengah kota di tepi
sungai Huangpu yang membelah kota Shanghai dengan latar belakang Oriental TV
Tower. Tempat ini dijadikan tempat untuk mengabadikan kunjungan kita di kota
Shanghai, sebagai “photo stop”. Oleh karena tempat ini memiliki background
landscape kota yang menarik, maka juga banyak didatangi calon pengantin untuk
pemotretan pre-wedding. Masih banyak tempat wisata lain yang pantas untuk
dikunjungi, termasuk wisata kuliner di Shanghai. Shanghai memang layak
dikunjungi, dan wisata disini dikemas dengan sangat baik. Kapankah wisata di
Indonesia bisa dikemas dengan baik dan termasuk infrastrukturnya?
Drs. H. Bambang P. Sumo, MA
Published in Banten Ekspres April 2013.

No comments:
Post a Comment