Blusukan dari Wilayah China Selatan Sampai Utara
Naik Bullet Train ke
Beijing, Simbol Keberhasilan Program Transportasi China
Drs. H. Bambang P.
Sumo, MA
Pengamat Sosial
Tinggal di Jakarta
Anomali cuaca terjadi di China dan juga di belahan dunia yang lain, kalau pertengahan bulan Maret lalu
di beberapa kota di China seharusnya sudah memasuki awal Spring atau musim semi
yang indah, tapi minggu ketiga Maret lalu masih terasa sisa-sisa Winter atau
musim dingin. Sisa-sisa salju masih kita temui pada siang hari di Kota
Terlarang atau Forbidden City dan Lapangan Tianamen yang menjadi pusat
pemerintah dan politik China. Di Beijing salju masih turun secara sporadis dan suhu bisa mencapai minus 4, keadaan itu juga
terjadi di belahan dunia lain seperti di Jerman. Teman penulis Mbak Pepeng yang
tinggal bersama suaminya yang alumnus ITB di Desa Pinneberg pinggiran Kota
Hamburg mengatakan kalau salju di rumahnya masih tebal dan dia harus
terus-menerus membersihkan salju, padahal pemerintah sudah mengumumkan kalau
Jerman sudah memasuki Spring. Tinggal dan berlibur di akhir musim dingin dan
menjelang musim semi di wilayah China Selatan sampai Utara atau katakan dari Shanghai sampai Beijing
terasa nyaman. Menjelang musim semi ini pohon-pohon Sakura dan Persik yang
ditanam di sepanjang kota Hangzhou, Suzhou dan Beijing sudah mulai berbunga
ditambah keindahan tanaman kayu lainnya yang daunnya berguguran belum bersemi,
dan yang aneh tanaman sejenis cemara daunnya tidak gugur di musim dingin.
Infrastruktur di
China
Jalan-jalan yang menghubungkan antar kota umumnya mulus dan
lebar, jaringan jalan tol juga secara luas dan besar-besaran dibangun untuk
mempercepat hubungan antar wilayah dan kota serta untuk mendongkrak pertumbuhan
ekonomi suatu wilayah. Jalan tol di sini umumnya menggunakan model kartu akses
yang tidak perlu antri bila memasuki atau keluar tol, karena sudah membayar
deposit untuk tol, sehingga tidak terjadi antrian panjang di tol. Jalan-jalan
dalam kota pun lebar-lebar dan mulus, di sepanjang jalan ditanami pohon-pohon
penghijauan yang indah dan juga banyak terdapat ruang terbuka hijau.
Jalan-jalan di kota Beijing yang ditempati oleh 20 juta penduduk terasa penuh
apalagi pada jam-jam kerja, namun meskipun kemacetan cukup parah khususnya pada
jam sibuk, tapi kendaraan masih cukup teratur dan antri rapi, tidak seperti di
Jakarta yang semrawut. Jalan-jalan kota dibangun bertingkat-tingkat untuk
memberi akses kepada kendaraan, tapi tetap saja jalan raya terasa tidak
mencukupi. Pemerintah kota Beijing juga mengembangkan moda transportasi lainnya
seperti subway atau kereta bawah tanah, selain bus kota. Moda transportasi
melalui kereta api dikembangkan secara intensif dan besar-besaran, panjang
jalur kereta di China saat ini ada 90 ribu kilometer bandingkan dengan Indonesia
yang hanya 6000 kilometer, malahan jalur-jalur kereta api yang dulu pernah ada
sekarang banyak yang hilang dan pembangunan double track Jakarta-Surabaya saja
tidak pernah rampung-rampung. Malahan China sekarang mengembangkan kereta super
cepat atau bullet train(China Railway Highspeed), yang diresmikan pada 7
januari 2012, ke seluruh wilayah China, bahkan kemungkinan di masa depan akan
terhubung dengan India dan Negara-negara di Asia atau bahkan sampai Moskow.
Untuk ini pemerintah China mengklaim memiliki bullet train terbanyak serta
tercepat (300 kilometer per jam) di dunia. Ketika penulis mencoba naik kereta
peluru/bullet train yang betul-betul bentuk fisiknya seperti peluru dengan
warna silver terang dengan garis biru sedangkan interior dalamnya menggunakan
kursi jok beludru biru yang sangat nyaman dan longgar, dari Kota Suzhou ke Beijing yang berjarak sekitar
1.500 kilometer, perjalanan yang ditempuh selama 5jam terasa menyenangkan
karena serasa naik mobil Alphard tanpa suara dan goncangan, selain itu juga
didalam kereta terpasang heater sehingga cuaca dingin di luar kereta tidak
terasa. Di kereta para penumpang bisa beli makanan atau minuman, atau malahan
kita boleh minta air panas bila kita sudah bawa kopi sachet atau mie cup.
Membayangkan kereta peluru bisa dibangun di Indonesia menjadi terasa mimpi,
karena perkeretaapian yang ada saja terasa ketinggalan jaman dan jalur kereta
api yang ada juga tidak pernah bertambah. Kebijakan perkeretaapian di negeri
kita tercinta ini terasa tidak jelas mau ke arah mana, dan kelihatannya akan
sulit untuk berkembang selama masih ada dua nahkoda yang mengurusi masalah
kereta api, yaitu PT. KAI yang
dinahkodai oleh Ignatius Jonan sebagai operator dan Dirjen Perkeretaapian Kementerian
Perhubungan yang bertanggung jawab untuk infrastrukturnya. Padahal di negeri
yang besar dan luas ini moda kereta api bisa digunakan untuk angkutan massal
yang cepat bagi penumpang dan barang.
Kebijakan Perumahan
Ketika naik bus dari Shanghai ke Hangzhou melalui jalan tol,
sepanjang perjalanan di kanan-kiri jalan tol bisa kita temui banyak apartemen
kelas menengah baik yang sudah berdiri amaupun sedang dalam proses pembangunan.
Kebijakan perumahan Pemerintah China lebih mengarah pada pembangunan rumah vertikal
dibandingkan landed house. Oleh karena itu pemerintah telah banyak membangun
apartemen bagi warganya. Namun dari pandangan mata yang kita temui di sepanjang
jalan tersebut banyak sekali ditemui apartemen yang kosong melompong tanpa
penghuni. Menurut temen penulis yang warga Hanzhou, katanya orang banyak yang
tidak mau tinggal di pinggir kota Shanghai karena jauh dari tempat kerja. Kalau
di tengah kota Shanghai banyak kita temui juga apartemen-apartemen mewah dan
kelas menengah. Di apartemen kelas menengah-bawah ini banyak ditemui
jemuran-jemuran pakaian yang menggantung menghiasi apartemen, berbeda dengan di
Beijing yang hampir tidak kita temui gantungan jemuran baju terjuntai di
apartemen karena ada peraturan pemerintah kota yang melarang penghuni apartemen
menggantung jemuran di apartemen. Kebijakan tentang vertical houses atau model
apartemen ini seharusnya sudah menjadi kebijakan pemerintah Indonesia dalam
masalah perumahan, mengingat lahan untuk perumahan yang makin terbatas sehingga
sekarang ini pembangunan perumahan ataupun industrial estates banyak merambah
tanah-tanah produktif dan tanah resapan ataupun perbukitan atau daerah yang
seharusnya untuk penghijauan. Padahal dahulu pada waktu awal-awal Perumnas
berdiri, mereka waktu itu mempunyai kebijakan membangun flat-flat bertingkat
seperti di Perumnas Klender Jakarta, tapi kebijakan itu tidak berlanjut malahan
membangun rumah-rumah batako kecil-kecil.
Pemerintah China juga mempunyai kebijakan yang cukup tegas
tentang perumahan, dimana setiap orang yang belum berkeluarga hanya
diperbolehkan memiliki satu rumah, sedangkan bagi warga Beijing dan Shanghai
yang sudah berumah tangga, ada peraturan bahwa mereka boleh memiliki rumah
kedua (sebagai batas kepemilikan rumah) dengan catatan rumah kedua akan kena
pajak yang tinggi. Jadi tidak seperti di Indonesia bahwa setiap orang atau
keluarga bisa memiliki rumah sebanyak-banyaknya. Mungkin ada baiknya juga kalau
pemerintah Indonesia dalam kaitan dengan pemerataan kepemilikan rumah dan
keterbatasan lahan serta untuk menjaga kelestarian lingkungan, karena banyak
warga masyarakat yang belum memiliki rumah, pemerintah bisa menerapkan
kebijakan pembatasan kepemilikan rumah.
Kemajuan China di berbagai bidang memang luar biasa, ekonomi
China tumbuh pesat dan tertinggi di dunia meskipun sekarang agak melambat, pada
saat perekonomian Eropa juga Amerika Serikat terpuruk. Kemajuan China diawali
pada saat Deng Xiaoping pada tahun 1978,
dan dia harus memberesi dampak dari carut marutnya Revolusi Kebudayaan, melalui
Revolusi Kedua atau “Second Revolution” dia menerapkan kebijakan ekonomi atau
economic reforms, dan kebijakan yang mengarah pada stabilitas politik dan
keamanan telah membawa kemajuan China menjadi disegani oleh Negara-negara lain
di dunia. Deng telah membuka diri terhadap dunia dan ekonomi China mulai
diorientasikan ke ekonomi pasar. Dialah peletak dasar China modern. Indonesia
ada peluang mengejar kemajuan China asal kita memang focus dan serius dalam
membangun negeri ini, tidak hanya sibuk berwacana politik dan rebut terus,
bukan menjadi bangsa yang pintar berbicara dan teriak-teriak tapi tidak mau
bekerja keras.

No comments:
Post a Comment