Monday, 14 August 2017

Naik Bullet Train dari Shanghai ke Beijing

Blusukan dari Wilayah China Selatan Sampai Utara
Naik Bullet Train ke Beijing, Simbol Keberhasilan Program Transportasi China
Drs. H. Bambang P. Sumo, MA
Pengamat Sosial Tinggal di Jakarta


Anomali cuaca terjadi di China dan juga di belahan dunia  yang lain, kalau pertengahan bulan Maret lalu di beberapa kota di China seharusnya sudah memasuki awal Spring atau musim semi yang indah, tapi minggu ketiga Maret lalu masih terasa sisa-sisa Winter atau musim dingin. Sisa-sisa salju masih kita temui pada siang hari di Kota Terlarang atau Forbidden City dan Lapangan Tianamen yang menjadi pusat pemerintah dan politik China. Di Beijing salju masih turun secara sporadis  dan suhu bisa mencapai minus 4, keadaan itu juga terjadi di belahan dunia lain seperti di Jerman. Teman penulis Mbak Pepeng yang tinggal bersama suaminya yang alumnus ITB di Desa Pinneberg pinggiran Kota Hamburg mengatakan kalau salju di rumahnya masih tebal dan dia harus terus-menerus membersihkan salju, padahal pemerintah sudah mengumumkan kalau Jerman sudah memasuki Spring. Tinggal dan berlibur di akhir musim dingin dan menjelang musim semi di wilayah China Selatan sampai Utara  atau katakan dari Shanghai sampai Beijing terasa nyaman. Menjelang musim semi ini pohon-pohon Sakura dan Persik yang ditanam di sepanjang kota Hangzhou, Suzhou dan Beijing sudah mulai berbunga ditambah keindahan tanaman kayu lainnya yang daunnya berguguran belum bersemi, dan yang aneh tanaman sejenis cemara daunnya tidak gugur di musim dingin.


 Infrastruktur di China
Jalan-jalan yang menghubungkan antar kota umumnya mulus dan lebar, jaringan jalan tol juga secara luas dan besar-besaran dibangun untuk mempercepat hubungan antar wilayah dan kota serta untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Jalan tol di sini umumnya menggunakan model kartu akses yang tidak perlu antri bila memasuki atau keluar tol, karena sudah membayar deposit untuk tol, sehingga tidak terjadi antrian panjang di tol. Jalan-jalan dalam kota pun lebar-lebar dan mulus, di sepanjang jalan ditanami pohon-pohon penghijauan yang indah dan juga banyak terdapat ruang terbuka hijau. Jalan-jalan di kota Beijing yang ditempati oleh 20 juta penduduk terasa penuh apalagi pada jam-jam kerja, namun meskipun kemacetan cukup parah khususnya pada jam sibuk, tapi kendaraan masih cukup teratur dan antri rapi, tidak seperti di Jakarta yang semrawut. Jalan-jalan kota dibangun bertingkat-tingkat untuk memberi akses kepada kendaraan, tapi tetap saja jalan raya terasa tidak mencukupi. Pemerintah kota Beijing juga mengembangkan moda transportasi lainnya seperti subway atau kereta bawah tanah, selain bus kota. Moda transportasi melalui kereta api dikembangkan secara intensif dan besar-besaran, panjang jalur kereta di China saat ini ada 90 ribu kilometer bandingkan dengan Indonesia yang hanya 6000 kilometer, malahan jalur-jalur kereta api yang dulu pernah ada sekarang banyak yang hilang dan pembangunan double track Jakarta-Surabaya saja tidak pernah rampung-rampung. Malahan China sekarang mengembangkan kereta super cepat atau bullet train(China Railway Highspeed), yang diresmikan pada 7 januari 2012, ke seluruh wilayah China, bahkan kemungkinan di masa depan akan terhubung dengan India dan Negara-negara di Asia atau bahkan sampai Moskow. Untuk ini pemerintah China mengklaim memiliki bullet train terbanyak serta tercepat (300 kilometer per jam) di dunia. Ketika penulis mencoba naik kereta peluru/bullet train yang betul-betul bentuk fisiknya seperti peluru dengan warna silver terang dengan garis biru sedangkan interior dalamnya menggunakan kursi jok beludru biru yang sangat nyaman dan longgar,  dari Kota Suzhou ke Beijing yang berjarak sekitar 1.500 kilometer, perjalanan yang ditempuh selama 5jam terasa menyenangkan karena serasa naik mobil Alphard tanpa suara dan goncangan, selain itu juga didalam kereta terpasang heater sehingga cuaca dingin di luar kereta tidak terasa. Di kereta para penumpang bisa beli makanan atau minuman, atau malahan kita boleh minta air panas bila kita sudah bawa kopi sachet atau mie cup. Membayangkan kereta peluru bisa dibangun di Indonesia menjadi terasa mimpi, karena perkeretaapian yang ada saja terasa ketinggalan jaman dan jalur kereta api yang ada juga tidak pernah bertambah. Kebijakan perkeretaapian di negeri kita tercinta ini terasa tidak jelas mau ke arah mana, dan kelihatannya akan sulit untuk berkembang selama masih ada dua nahkoda yang mengurusi masalah kereta api, yaitu PT. KAI  yang dinahkodai oleh Ignatius Jonan sebagai operator dan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan yang bertanggung jawab untuk infrastrukturnya. Padahal di negeri yang besar dan luas ini moda kereta api bisa digunakan untuk angkutan massal yang cepat bagi penumpang dan barang.

Kebijakan Perumahan
Ketika naik bus dari Shanghai ke Hangzhou melalui jalan tol, sepanjang perjalanan di kanan-kiri jalan tol bisa kita temui banyak apartemen kelas menengah baik yang sudah berdiri amaupun sedang dalam proses pembangunan. Kebijakan perumahan Pemerintah China lebih mengarah pada pembangunan rumah vertikal dibandingkan landed house. Oleh karena itu pemerintah telah banyak membangun apartemen bagi warganya. Namun dari pandangan mata yang kita temui di sepanjang jalan tersebut banyak sekali ditemui apartemen yang kosong melompong tanpa penghuni. Menurut temen penulis yang warga Hanzhou, katanya orang banyak yang tidak mau tinggal di pinggir kota Shanghai karena jauh dari tempat kerja. Kalau di tengah kota Shanghai banyak kita temui juga apartemen-apartemen mewah dan kelas menengah. Di apartemen kelas menengah-bawah ini banyak ditemui jemuran-jemuran pakaian yang menggantung menghiasi apartemen, berbeda dengan di Beijing yang hampir tidak kita temui gantungan jemuran baju terjuntai di apartemen karena ada peraturan pemerintah kota yang melarang penghuni apartemen menggantung jemuran di apartemen. Kebijakan tentang vertical houses atau model apartemen ini seharusnya sudah menjadi kebijakan pemerintah Indonesia dalam masalah perumahan, mengingat lahan untuk perumahan yang makin terbatas sehingga sekarang ini pembangunan perumahan ataupun industrial estates banyak merambah tanah-tanah produktif dan tanah resapan ataupun perbukitan atau daerah yang seharusnya untuk penghijauan. Padahal dahulu pada waktu awal-awal Perumnas berdiri, mereka waktu itu mempunyai kebijakan membangun flat-flat bertingkat seperti di Perumnas Klender Jakarta, tapi kebijakan itu tidak berlanjut malahan membangun rumah-rumah batako kecil-kecil.
Pemerintah China juga mempunyai kebijakan yang cukup tegas tentang perumahan, dimana setiap orang yang belum berkeluarga hanya diperbolehkan memiliki satu rumah, sedangkan bagi warga Beijing dan Shanghai yang sudah berumah tangga, ada peraturan bahwa mereka boleh memiliki rumah kedua (sebagai batas kepemilikan rumah) dengan catatan rumah kedua akan kena pajak yang tinggi. Jadi tidak seperti di Indonesia bahwa setiap orang atau keluarga bisa memiliki rumah sebanyak-banyaknya. Mungkin ada baiknya juga kalau pemerintah Indonesia dalam kaitan dengan pemerataan kepemilikan rumah dan keterbatasan lahan serta untuk menjaga kelestarian lingkungan, karena banyak warga masyarakat yang belum memiliki rumah, pemerintah bisa menerapkan kebijakan pembatasan kepemilikan rumah.
Kemajuan China di berbagai bidang memang luar biasa, ekonomi China tumbuh pesat dan tertinggi di dunia meskipun sekarang agak melambat, pada saat perekonomian Eropa juga Amerika Serikat terpuruk. Kemajuan China diawali pada saat Deng Xiaoping  pada tahun 1978, dan dia harus memberesi dampak dari carut marutnya Revolusi Kebudayaan, melalui Revolusi Kedua atau “Second Revolution” dia menerapkan kebijakan ekonomi atau economic reforms, dan kebijakan yang mengarah pada stabilitas politik dan keamanan telah membawa kemajuan China menjadi disegani oleh Negara-negara lain di dunia. Deng telah membuka diri terhadap dunia dan ekonomi China mulai diorientasikan ke ekonomi pasar. Dialah peletak dasar China modern. Indonesia ada peluang mengejar kemajuan China asal kita memang focus dan serius dalam membangun negeri ini, tidak hanya sibuk berwacana politik dan rebut terus, bukan menjadi bangsa yang pintar berbicara dan teriak-teriak tapi tidak mau bekerja keras.


No comments:

Post a Comment