Sunday, 5 May 2013

Hangzhou dan Suzhou Menjadi Model Kota Budaya yang Indah











Berbeda dengan Shanghai yang merupakan kota besar yang padat penduduk yang penuh hiruk pikuk, Kota Hangzhou (baca: hang-cow) menjadi kontras baik dalam skala besar dan situasi kotanya. Hangzhou bisa dikatakan sebagai kota alternatif bagi penduduk Shanghai untuk menghilangkan kepenatan rutin sehari- hari dari desahan kota megapolitan. Jarak Shanghai ke Hangzhou hampir sama dengan satu setengah kali perjalanan Jakarta - Bandung yang bisa ditempuh dengan bus melalui jaringan tollway yang cukup nyaman sekitar 3,5 jam. Hangzhou menjadi kota peristirahatan yang sejuk, dengan suhu yang lebih dingin dibanding dengan Shanghai pada bulan Maret lalu atau menjelang Spring atau musim semi, suhu waktu itu di Hangzhou sekitar 12 derajad Celsius sedangkan Shanghai 17 derajat.
                                                                             




Kota Surga
Tidak salah kalau Kota Hangzhou disebut laksana surga. Oleh karena itu ada pameo terkenal masyarakat Hangzhou, yang 
mengatakan:”Di atas langit ada surga, di atas bumi ada Kota Hangzhou”. Keindahan itu makin terasa pada saat menjelang musim semi di Hangzhou yang bergunung-gunung dengan perkebunan tehnya (teh hijaunya sangat terkenal) dan dikelilingi pepohonan hijau di seluruh kotanya, ya terasa sangat indah. Di sepanjang jalan dan di taman-taman kota dipenuhi tanaman bunga Sakura dan bunga Persik yang mulai berbunga, cantik sekali. Ternyata Sakura bukan monopoli Jepang saja yang berjuluk negeri Sakura tapi di beberapa kota di Cina pun bunga Sakura menghiasi taman-taman dan jalan-jalan. Kota Hangzhou merupakan kota kuno yang telah berusia 2.200 tahun, mulai dibangun oleh Dinasti Song. Kota kembarannya adalah Suzhou (baca: Su-cow), dapat ditempuh selama dua jam perjalanan darat dengan bus melalui jalan tol. Suzhou juga merupakan kota legenda yang sudah tua atau usianya sudah 2.500 tahun, lebih tua dan saat itu lebih dingin dari Hangzhou. Konon jaman dulu merupakan kota untuk tetirah para raja di Beijing, dengan menempuh perjalanan selama berhari-hari melalui sungai. Berada di kota-kota ini, kita jadi teringat dengan kota Bogor dan Puncak, cuma saja kota Hangzhou dan Suzhou ini lebih teratur, bersih dan indah. Lalu lintas di kota-kota di China pada umumnya lebih teratur dibanding di Indonesia. Di China alat transportasi yang ada adalah bus kota, trem, taxi, subway, kereta, sedangkan masyarakat sangat sedikit sekali yang menggunakan sepeda motor. Sangat sedikitnya sepeda motor di China karena sepeda motor dianggap rentan terhadap kecelakaan dan masyarakat banyak menggunakan public transportation. Jalan- jalan tertata dengan baik, dan banyak trotoar untuk pejalan kaki dibangun di sepanjang kali, sedangkan antara jalan dan trotoar dipisahkan oleh taman yang banyak ditanami bunga Sakura dan Persik. Melihat itu kita menjadi sangat iri, dimana para pejalan kaki di China ini dimanja dengan sarana yang nyaman. Sebaliknya di negeri kita, para pejalan kaki sudah tidak dianggap lagi. Kalau toh ada trotoar untuk pejalan kaki, sarana tersebut sudah diokupasi oleh pedagang kaki lima, bahkan malah digunakan para pengguna sepeda motor yang jumlahnya sudah diluar batas dan perilaku berkendaraannya tanpa etika dan aturan.

Dari Sam Pek Engthay Sampai Ayam Pengemis
Sam Pek Engthay merupakan legenda Romeo dan Juliet ala China yang sangat terkenal di Hangzhou, bahkan di China dan juga terkenal di luar China. Di Indonesia pun banyak masyarakat yang mengenal legenda percintaan yang berakhir tragis tersebut. Bahkan Nano Riantiarno telah mementaskan cerita tersebut dengan versi teaternya berkali kali. Masyarakat dapat melihat pementasan opera Sam Pek Engthay yang sangat indah di gedung yang megah dengan membayar tiket 280 Yuan atau sekitar Rp 450.000, melalui sajian tarian dan nyanyian dukungan multimedia yang luar biasa. Wisata di China memang telah dikelola dengan baik, juga infrastruktur pendukung pariwisata pun telah tertata dengan baik.
Legenda lainnya dari Hangzhou yang sangat terkenal, bahkan sudah difilmkan dan popular di Indonesia adalah legenda Siluman Ular Putih di West Lake atau Danau Xi Hu yang luasnya 6,7 kilometer persegi. Di danau ini juga terkenal dengan legenda jembatan putus, dan jembatan tersebut sampai kini masih ada dan sebetulnya jembatan tersebut tidak putus hanya sebagian tertutup salju. Sampai sekarang banyak orang yang masih ingat film Siluman Ular Putih yang sempat menjadi tontonan favorit di Indonesia tersebut.  Sedangkan Suzhou terkenal dengan pabrik suteranya, di sini ada mulai dari ternak ulat sutera sampai membuat sutera dan produk barangnya, juga toko untuk produknya. Proses pembuatan sutera ini telah dikemas dengan menarik menjadi obyek wisata, dan wisatawanpun digiring untuk membeli produk-produknya yang dijual di toko di area pabrik tersebut. Bisakah kita meniru seperti ini dan sebetulnya banyak hal di negeri kita yang bisa dikemas menjadi obyek wisata yang menarik.
Hangzhou juga terkenal dengan pahlawannya, yaitu pahlawan bangsa China, Yue Fei, yang berasal dari desa  Kungfu,  Desa Henan. Kepahlawanannya diabadikan dalam bentuk kuil yang disebut Yue Fei Temple. Dalam soal makanan, Hangzhou terkenal dengan makanannya yang enak-enak, salah satunya adalah “beggar chicken” atau ayam pengemis. Konon di jaman itu ada seorang pengemis yang kelaparan, kemudian pengemis tersebut karena sudah tidak tahan lagi menahan lapar, dia mencuri ayam di rumah penduduk dan memasaknya dengan cara dikukus dengan daun teratai. Pada saat dia memasak tersebut, bau wangi masakannya sampai kemana-mana yang membuat penduduk mencari-cari sumber bau masakan yang enak tersebut. Ternyata ada seorang pengemis sedang memasak ayam yang dikukus dengan daun teratai, maka terkenallah masakan tersebut dengan “Ayam Pengemis”. Ini sebetulnya seperti ayam pepes yang dibungkus daun teratai. Di negeri kita dan daerah-daerah lain seperti Banten sebetulnya banyak makanan khas yang dapat dikemas lebih menarik untuk dikenalkan kepada para wisatawan.

No comments:

Post a Comment