Kota Surga
Tidak salah kalau Kota Hangzhou disebut laksana surga. Oleh
karena itu ada pameo terkenal masyarakat Hangzhou, yang
mengatakan:”Di atas
langit ada surga, di atas bumi ada Kota Hangzhou”. Keindahan itu makin terasa
pada saat menjelang musim semi di Hangzhou yang bergunung-gunung dengan
perkebunan tehnya (teh hijaunya sangat terkenal) dan dikelilingi pepohonan
hijau di seluruh kotanya, ya terasa sangat indah. Di sepanjang jalan dan di
taman-taman kota dipenuhi tanaman bunga Sakura dan bunga Persik yang mulai
berbunga, cantik sekali. Ternyata Sakura bukan monopoli Jepang saja yang
berjuluk negeri Sakura tapi di beberapa kota di Cina pun bunga Sakura menghiasi
taman-taman dan jalan-jalan. Kota Hangzhou merupakan kota kuno yang telah
berusia 2.200 tahun, mulai dibangun oleh Dinasti Song. Kota kembarannya adalah
Suzhou (baca: Su-cow), dapat ditempuh selama dua jam perjalanan darat dengan
bus melalui jalan tol. Suzhou juga merupakan kota legenda yang sudah tua atau
usianya sudah 2.500 tahun, lebih tua dan saat itu lebih dingin dari Hangzhou. Konon
jaman dulu merupakan kota untuk tetirah para raja di Beijing, dengan menempuh
perjalanan selama berhari-hari melalui sungai. Berada di kota-kota ini, kita
jadi teringat dengan kota Bogor dan Puncak, cuma saja kota Hangzhou dan Suzhou ini
lebih teratur, bersih dan indah. Lalu lintas di kota-kota di China pada umumnya
lebih teratur dibanding di Indonesia. Di China alat transportasi yang ada
adalah bus kota, trem, taxi, subway, kereta, sedangkan masyarakat sangat
sedikit sekali yang menggunakan sepeda motor. Sangat sedikitnya sepeda motor di
China karena sepeda motor dianggap rentan terhadap kecelakaan dan masyarakat
banyak menggunakan public transportation. Jalan- jalan tertata dengan baik, dan
banyak trotoar untuk pejalan kaki dibangun di sepanjang kali, sedangkan antara
jalan dan trotoar dipisahkan oleh taman yang banyak ditanami bunga Sakura dan
Persik. Melihat itu kita menjadi sangat iri, dimana para pejalan kaki di China
ini dimanja dengan sarana yang nyaman. Sebaliknya di negeri kita, para pejalan
kaki sudah tidak dianggap lagi. Kalau toh ada trotoar untuk pejalan kaki,
sarana tersebut sudah diokupasi oleh pedagang kaki lima, bahkan malah digunakan
para pengguna sepeda motor yang jumlahnya sudah diluar batas dan perilaku
berkendaraannya tanpa etika dan aturan.
Dari Sam Pek Engthay
Sampai Ayam Pengemis
Sam Pek Engthay merupakan legenda Romeo dan Juliet ala China
yang sangat terkenal di Hangzhou, bahkan di China dan juga terkenal di luar
China. Di Indonesia pun banyak masyarakat yang mengenal legenda percintaan yang
berakhir tragis tersebut. Bahkan Nano Riantiarno telah mementaskan cerita
tersebut dengan versi teaternya berkali kali. Masyarakat dapat melihat
pementasan opera Sam Pek Engthay yang sangat indah di gedung yang megah dengan
membayar tiket 280 Yuan atau sekitar Rp 450.000, melalui sajian tarian dan
nyanyian dukungan multimedia yang luar biasa. Wisata di China memang telah
dikelola dengan baik, juga infrastruktur pendukung pariwisata pun telah tertata
dengan baik.
Legenda lainnya dari Hangzhou yang sangat terkenal, bahkan
sudah difilmkan dan popular di Indonesia adalah legenda Siluman Ular Putih di
West Lake atau Danau Xi Hu yang luasnya 6,7 kilometer persegi. Di danau ini
juga terkenal dengan legenda jembatan putus, dan jembatan tersebut sampai kini
masih ada dan sebetulnya jembatan tersebut tidak putus hanya sebagian tertutup
salju. Sampai sekarang banyak orang yang masih ingat film Siluman Ular Putih yang
sempat menjadi tontonan favorit di Indonesia tersebut. Sedangkan Suzhou terkenal dengan pabrik suteranya,
di sini ada mulai dari ternak ulat sutera sampai membuat sutera dan produk
barangnya, juga toko untuk produknya. Proses pembuatan sutera ini telah dikemas
dengan menarik menjadi obyek wisata, dan wisatawanpun digiring untuk membeli
produk-produknya yang dijual di toko di area pabrik tersebut. Bisakah kita
meniru seperti ini dan sebetulnya banyak hal di negeri kita yang bisa dikemas
menjadi obyek wisata yang menarik.
Hangzhou juga terkenal dengan pahlawannya, yaitu pahlawan
bangsa China, Yue Fei, yang berasal dari desa
Kungfu, Desa Henan.
Kepahlawanannya diabadikan dalam bentuk kuil yang disebut Yue Fei Temple. Dalam
soal makanan, Hangzhou terkenal dengan makanannya yang enak-enak, salah satunya
adalah “beggar chicken” atau ayam pengemis. Konon di jaman itu ada seorang
pengemis yang kelaparan, kemudian pengemis tersebut karena sudah tidak tahan
lagi menahan lapar, dia mencuri ayam di rumah penduduk dan memasaknya dengan
cara dikukus dengan daun teratai. Pada saat dia memasak tersebut, bau wangi
masakannya sampai kemana-mana yang membuat penduduk mencari-cari sumber bau
masakan yang enak tersebut. Ternyata ada seorang pengemis sedang memasak ayam
yang dikukus dengan daun teratai, maka terkenallah masakan tersebut dengan
“Ayam Pengemis”. Ini sebetulnya seperti ayam pepes yang dibungkus daun teratai.
Di negeri kita dan daerah-daerah lain seperti Banten sebetulnya banyak makanan
khas yang dapat dikemas lebih menarik untuk dikenalkan kepada para wisatawan.


No comments:
Post a Comment