Mengejar Mimpi Dunia
Pendidikan Kita
Drs.
H. Bambang P. Sumo, MA
Pemerhati Masalah
Sosial, Budaya, dan Politik – Tinggal di Jakarta
Bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional di bulan Mei ini
justru dunia pendidikan tertampar dengan citra buruk. Hiruk pikuk masalah
kurikulum baru tahun 2013 belum usai, tapi telanjur tenggelam oleh pelaksanaan
Ujian Nasional (UN) yang kacau balau dan berdampak terhadap mundurnya seorang
pejabat eselon 1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ada 11 provinsi yang
mengalami penundaan UN karena bahan UN belum selesai dicetak, lebih celaka lagi
bahan UN yang sudah selesai dicetak banyak mengalami masalah dalam distribusinya. Akibatnya di beberapa
daerah pada saat peserta UN-nya sudah siap tetapi soal UN-nya tidak kunjung datang.
Disini yang menjadi biang kerok carut-marutnya pelaksanaan UN tahun 2013 ini
adalah masalah pencetakan soal UN dan masalah distribusinya. Seharusnya masalah
teknis semacam ini tidak perlu terjadi bila perencanaan, persiapan, pelaksanaan
pencetakan dan distribusinya terus-menerus dimonitor dan mendapat pengawasan
yang ketat. Tampaknya sistem pengawasan internalnya tidak jalan, setiap jenjang
kepemimpinan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hanya menyerahkan pada pejabat/staf
yang ada di level di bawahnya tanpa mengecek langsung setiap tahapan pekerjaan.
Di pihak lain kompetensi percetakannya juga diragukan. Sebetulnya dengan adanya
Kurikulum Baru 2013 dan UN ini, pemerintah ingin mengejar mimpi di dunia pendidikan
yaitu peningkatan kualitas pendidikan, meskipun pemerataan pendidikan saja bagi
warga masyarakat kita masih belum tercapai. Lalu bagaimana kita bisa mengejar
kualitas pendidikan bila hal-hal teknis semacam ini tidak bisa kita tangani
dengan baik.
Untuk mengejar
kualitas pendidikan sudah barang tentu kita harus merunutnya dari mulai tahapan
input dan prosesnya, dan dari situ kita akan mendapatkan output yang kita
harapkan. Apa sajakah yang masuk dalam variable input yang akan mempengaruhi output
yang kita tuju yaitu kualitas pendidikan, antara lain sarana-prasarana
pendidikan, murid, guru, kurikulum, buku-buku, bahan ajar, dan sebagainya. Di pihak lain meskipun
inputnya bagus bila variable prosesnya seperti media pembelajaran, bagaimana
guru melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, bagaimana siswa atau peserta
didik menerima atau menyerap materi
ajar, suasana kelas, dan sebagainya,
tidak dilaksanakan dengan baik, maka tujuan yang kita harapkan tidak akan
tercapai, demikian pula sebaliknya. Sehingga dua variable tersebut harus berjalan secara simultan dengan baik bila kita
menginginkan terjadi peningkatan kualitas pendidikan. Itu juga tidak mudah
karena masih ada faktor-faktor eksternal
lainnya yang sedikit banyak ikut mempengaruhinya. 
Masalah Input
Kalau kita mengamati gedung-gedung sekolah di berbagai
wilayah baik mencakup wilayah kabupaten/kota atau provinsi, maka kondisinya
bisa dikatakan belum memenuhi standar
sarana pendidikan yang ideal. Bahkan untuk gedung sekolah atau sarana
pendidikan dari sekolah-sekolah yang disebut unggulan atau bahkan beberapa
waktu yang lalu ada yang disebut RSBI/sekolah berstandar internasional,
ternyata juga belum mencapai standar ideal apalagi bila dibanding dengan
negara-negara maju. Di dalam satu kota saja kondisinya seringkali berbeda jauh
antara bumi langit, bahkan yang menyedihkan ada sekolahan yang dekat dengan
ibukota negara ataupun ibukota propinsi ataupun pusat pemerintahan
kabupaten/kota dalam kondisi yang tidak layak. Belum lagi kalau kita bicara
fasilitas sekolahan seperti kecukupan
ruang kelas, halaman sekolah untuk bermain, lapangan upacara/sarana olah raga,
perpustakaan, laboratorium, klinik sekolah dan saran lainnya yang digunakan
untuk proses belajar – mengajar di sekolah. Demikian juga kondisi para gurunya,
meskipun telah dilakukan sertifikasi tetapi tetap saja kualitasnya masih
beragam dan belum sesuai dengan yang diinginkan. Apalagi untuk sekolah-sekolah
di daerah dan di wilayah terpencil. SDM guru masih jadi hambatan dalam upaya
meningkatkan kualitas pendidikan. Di pihak lain kondisi siswa juga beragam,
untuk sekolah unggulan memang lebih
beruntung bisa mendapatkan siswa yang secara akademik unggul juga atau bisa
mendapat bibit siswa yang pandai. Dan sudah barangtentu lebih memudahkan pihak
sekolah untuk mencetak lulusan yang berkualitas. Apalagi ditambah, biasanya
sekolah-sekolah unggulan tersebut mendapat SDM guru yang juga bagus. Dengan SDM
guru yang berkualitas baik dan adanya input siswa yang unggulan, sudan tentu
akan lebih memudahkan dalam proses belajar-mengajar. Sehingga sekolah-sekolah
tersebut biasanya menghasilkan lulusan-lulusan terbaik, baik bisa mudah
diterima di jenjang pendidikan yang lebih tinggi samapai perguruan tinggi,
ataupun bahkan banyak yang terserap di pasar kerja dan menjadi rebutan
perusahaan atau instansi ternama. Disamping itu baik tidaknya kualitas
pendidikan juga tergantung dari kurikulum yang ada, apakah sudah sesuai dengan
tujuan pendidikan kita, apa sih yang ingin kita capai. Apakah kurikulum itu
hanya menampung sampah kepentingan berbagai pihak yang ingin diakomodasikan
kepentingannya supaya menjadi bahan ajar dan masuk kurikulum. Akhirnya murid
menjadi korban karena kelebihan beban dan ilmu yang didapat tidak jelas. Juga
buku-buku ajar yang sarat kepentingan, sehingga kualitasnya masih bisa diperdebatkan.
Proses Belajar
Mengajar
Proses belajar mengajar banyak kaitannya dengan kreativitas
dan kualitas para guru. Ada guru yang asal ngajar, ngomong sendiri atau
seperti ngoceh tanpa mau tahu bahwa
peserta didiknya paham atau tidak materi yang diajarkan. Ada yang hanya menulis
terus di papan tulis atau white board. Ada yang memberi materi kemudian
ditinggal pergi. Ada yang setiap hari marah-marah terus, karena masalah
keluarga dibawa-bawa ke ruang kelas. Tapi banyak juga guru yang sudah siap
dengan media pembelajaran dan materi ajar yang inovatif dan kreatif sehingga
menarik dan mudah dipahami siswa. Banyak juga guru yang mengajar dengan
dibarengi observasi langsung ke lapangan atau melihat langsung contoh di alam
terbuka . banyak hal bisa dilakukan oleh guru-guru kreatif untuk menunjang
pemahaman proses belajar-mengajar. Mereka juga bisa membangun suasana kelas
dengan baik, sehingga para siswanya merasa nyaman dan penuh perhatian serta
merasa ingin tahu dan mau mempelajarinya dengan baik. Pemahaman akan psikologi
pendidikan, khususnya kondisi psikologis para siswanya sangatlah penting. Di abad teknologi sekarang ini sudah barang
tentu teknologi informasi dapat didayagunakan semaksimal mungkin untuk
menunjang proses belajar para siswa. Sekarang ini para guru dan siswa dapat
mencari acuan untuk materi pembelajaran dari internet, sehingga mereka bisa
lebih kaya referensi dan juga materinya mendapat yang terkini.
Menuju Kualitas
Pendidikan
Meskipun faktor input
dan proses telah kita benahi dengan baik, dan itu tentunya memerlukan proses
yang panjang karena permasalahan pendidikan di Indonesia begitu kompleks, tapi
tidak begitu saja kualitas pendidikan akan langsung meningkat di Indonesia. Hal
ini disebabkan masalah pemerataan pendidikanpun masih menjadi pekerjaaan rumah
yang luar biasa. Masih banyak daerah yang warganya kesulitaan akses untuk
memasuki lembaga pendidikan dasar, apalagi untuk masuk ke jenjang yang lebih
tinggi. Hal-hal lain yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah faktor-faktor
eksternal, baik berupa peraturan perundang-undangan, perda, kebijakan elite
pendidikan baik di pusat maupun di
daerah, kebijakan kementerian dan para kepala daerah, target kelulusan, dan
lain-lain. Misalnya, dengan adanya target kelulusan baik secara eksplisit
maupun implisit, karena menyangkut prestise atau gengsi kepala daerah, juga
adanya penghargaan dari instansi yang diatasnya, dalam kaitan dengan persentase
kelulusan siswa. Akhirnya, mereka secara tidak langsung menekan Kepala Dinas
Pendidikan, agar daerahnya mencapai kelulusan 100 % atau minimal 98-99%.
Selanjutnya kepala dinas menekan baik secara halus atau vulgar ke para kepala
sekolah. Hasilnya rekayasa kelulusan secara massal yang dilakukan dengan
berbagai variasi teknik rekayasa, supaya semua sekolah mencapai kelulusan 100%
atau minimal 98%. Makanya jadi aneh,
bagaimana bisa semua siswa sekolah lulus 100%. Benarkah mereka atau siswa itu
pintar-pintar semua, benarkah kualitas pendidikan kita telah meningkat cukup
signifikan karena ternyata para siswa telah semuanya menyerap materi ajar.
Bisakah kita dengan bangganya, dengan menepuk dada, mengatakan bahwa kualitas
pendidikan kita telah baik dan para siswa yang lulus telah memiliki kualitas
yang cukup tinggi. Bisakah para elite pendidikan, para kepala daerah dan mereka
yang mengelola lembaga-lembaga pendidikan menyombongkan diri dengan
berkata:”Kita telah berhasil membangun dunia pendidikan kita, sehingga kualitas
pendidikan telah mencapai derajad yang tinggi”. Oleh karena itu, Hari
Kebangkitan Nasional ini bisa menjadi momentum pula terhadap bangkitnya dunia
pendidikan Indonesia, yang telah disokong dengan anggaran yang sangat besar,
sebesar minimal 20% dari APBN atau APBD. Melalui dunia pendidikan diharapkan akan terwujud manusia Indonesia
yang pandai dan berkarakter serta paham akan budaya bangsanya, dengan jiwa
nasionalisme yang tinggi.
No comments:
Post a Comment