Saturday, 25 May 2013

Mengejar Mimpi Dunia Pendidikan Kita



Mengejar Mimpi Dunia Pendidikan Kita
Drs. H. Bambang P. Sumo, MA
Pemerhati Masalah Sosial, Budaya, dan Politik – Tinggal di Jakarta


Bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional di bulan Mei ini justru dunia pendidikan tertampar dengan citra buruk. Hiruk pikuk masalah kurikulum baru tahun 2013 belum usai, tapi telanjur tenggelam oleh pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang kacau balau dan berdampak terhadap mundurnya seorang pejabat eselon 1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ada 11 provinsi yang mengalami penundaan UN karena bahan UN belum selesai dicetak, lebih celaka lagi bahan UN yang sudah selesai dicetak banyak mengalami masalah  dalam distribusinya. Akibatnya di beberapa daerah pada saat peserta UN-nya sudah siap tetapi soal UN-nya tidak kunjung datang. Disini yang menjadi biang kerok carut-marutnya pelaksanaan UN tahun 2013 ini adalah masalah pencetakan soal UN dan masalah distribusinya. Seharusnya masalah teknis semacam ini tidak perlu terjadi bila perencanaan, persiapan, pelaksanaan pencetakan dan distribusinya terus-menerus dimonitor dan mendapat pengawasan yang ketat. Tampaknya sistem pengawasan internalnya tidak jalan, setiap jenjang kepemimpinan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hanya menyerahkan pada pejabat/staf yang ada di level di bawahnya tanpa mengecek langsung setiap tahapan pekerjaan. Di pihak lain kompetensi percetakannya juga diragukan. Sebetulnya dengan adanya Kurikulum Baru 2013 dan UN ini, pemerintah ingin mengejar mimpi di dunia pendidikan yaitu peningkatan kualitas pendidikan, meskipun pemerataan pendidikan saja bagi warga masyarakat kita masih belum tercapai. Lalu bagaimana kita bisa mengejar kualitas pendidikan bila hal-hal teknis semacam ini tidak bisa kita tangani dengan baik.
 Untuk mengejar kualitas pendidikan sudah barang tentu kita harus merunutnya dari mulai tahapan input dan prosesnya, dan dari situ kita akan mendapatkan output yang kita harapkan. Apa sajakah yang masuk dalam variable input yang akan mempengaruhi output yang kita tuju yaitu kualitas pendidikan, antara lain sarana-prasarana pendidikan, murid, guru, kurikulum, buku-buku, bahan ajar,  dan sebagainya. Di pihak lain meskipun inputnya bagus bila variable prosesnya seperti media pembelajaran, bagaimana guru melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, bagaimana siswa atau peserta didik  menerima atau menyerap materi ajar,  suasana kelas, dan sebagainya, tidak dilaksanakan dengan baik, maka tujuan yang kita harapkan tidak akan tercapai, demikian pula sebaliknya. Sehingga dua variable tersebut harus  berjalan secara simultan dengan baik bila kita menginginkan terjadi peningkatan kualitas pendidikan. Itu juga tidak mudah karena masih ada faktor-faktor eksternal  lainnya yang sedikit banyak ikut mempengaruhinya. 

 Masalah Input
Kalau kita mengamati gedung-gedung sekolah di berbagai wilayah baik mencakup wilayah kabupaten/kota atau provinsi, maka kondisinya bisa dikatakan belum memenuhi  standar sarana pendidikan yang ideal. Bahkan untuk gedung sekolah atau sarana pendidikan dari sekolah-sekolah yang disebut unggulan atau bahkan beberapa waktu yang lalu ada yang disebut RSBI/sekolah berstandar internasional, ternyata juga belum mencapai standar ideal apalagi bila dibanding dengan negara-negara maju. Di dalam satu kota saja kondisinya seringkali berbeda jauh antara bumi langit, bahkan yang menyedihkan ada sekolahan yang dekat dengan ibukota negara ataupun ibukota propinsi ataupun pusat pemerintahan kabupaten/kota dalam kondisi yang tidak layak. Belum lagi kalau kita bicara fasilitas sekolahan seperti  kecukupan ruang kelas, halaman sekolah untuk bermain, lapangan upacara/sarana olah raga, perpustakaan, laboratorium, klinik sekolah dan saran lainnya yang digunakan untuk proses belajar – mengajar di sekolah. Demikian juga kondisi para gurunya, meskipun telah dilakukan sertifikasi tetapi tetap saja kualitasnya masih beragam dan belum sesuai dengan yang diinginkan. Apalagi untuk sekolah-sekolah di daerah dan di wilayah terpencil. SDM guru masih jadi hambatan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Di pihak lain kondisi siswa juga beragam, untuk sekolah unggulan  memang lebih beruntung bisa mendapatkan siswa yang secara akademik unggul juga atau bisa mendapat bibit siswa yang pandai. Dan sudah barangtentu lebih memudahkan pihak sekolah untuk mencetak lulusan yang berkualitas. Apalagi ditambah, biasanya sekolah-sekolah unggulan tersebut mendapat SDM guru yang juga bagus. Dengan SDM guru yang berkualitas baik dan adanya input siswa yang unggulan, sudan tentu akan lebih memudahkan dalam proses belajar-mengajar. Sehingga sekolah-sekolah tersebut biasanya menghasilkan lulusan-lulusan terbaik, baik bisa mudah diterima di jenjang pendidikan yang lebih tinggi samapai perguruan tinggi, ataupun bahkan banyak yang terserap di pasar kerja dan menjadi rebutan perusahaan atau instansi ternama. Disamping itu baik tidaknya kualitas pendidikan juga tergantung dari kurikulum yang ada, apakah sudah sesuai dengan tujuan pendidikan kita, apa sih yang ingin kita capai. Apakah kurikulum itu hanya menampung sampah kepentingan berbagai pihak yang ingin diakomodasikan kepentingannya supaya menjadi bahan ajar dan masuk kurikulum. Akhirnya murid menjadi korban karena kelebihan beban dan ilmu yang didapat tidak jelas. Juga buku-buku ajar yang sarat kepentingan, sehingga kualitasnya masih bisa diperdebatkan.

Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar banyak kaitannya dengan kreativitas dan kualitas para guru. Ada guru yang asal ngajar, ngomong sendiri atau seperti  ngoceh tanpa mau tahu bahwa peserta didiknya paham atau tidak materi yang diajarkan. Ada yang hanya menulis terus di papan tulis atau white board. Ada yang memberi materi kemudian ditinggal pergi. Ada yang setiap hari marah-marah terus, karena masalah keluarga dibawa-bawa ke ruang kelas. Tapi banyak juga guru yang sudah siap dengan media pembelajaran dan materi ajar yang inovatif dan kreatif sehingga menarik dan mudah dipahami siswa. Banyak juga guru yang mengajar dengan dibarengi observasi langsung ke lapangan atau melihat langsung contoh di alam terbuka . banyak hal bisa dilakukan oleh guru-guru kreatif untuk menunjang pemahaman proses belajar-mengajar. Mereka juga bisa membangun suasana kelas dengan baik, sehingga para siswanya merasa nyaman dan penuh perhatian serta merasa ingin tahu dan mau mempelajarinya dengan baik. Pemahaman akan psikologi pendidikan, khususnya kondisi psikologis para siswanya sangatlah penting.  Di abad teknologi sekarang ini sudah barang tentu teknologi informasi dapat didayagunakan semaksimal mungkin untuk menunjang proses belajar para siswa. Sekarang ini para guru dan siswa dapat mencari acuan untuk materi pembelajaran dari internet, sehingga mereka bisa lebih kaya referensi dan juga materinya mendapat yang terkini. 

Menuju Kualitas Pendidikan
 Meskipun faktor input dan proses telah kita benahi dengan baik, dan itu tentunya memerlukan proses yang panjang karena permasalahan pendidikan di Indonesia begitu kompleks, tapi tidak begitu saja kualitas pendidikan akan langsung meningkat di Indonesia. Hal ini disebabkan masalah pemerataan pendidikanpun masih menjadi pekerjaaan rumah yang luar biasa. Masih banyak daerah yang warganya kesulitaan akses untuk memasuki lembaga pendidikan dasar, apalagi untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Hal-hal lain yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah faktor-faktor eksternal, baik berupa peraturan perundang-undangan, perda, kebijakan elite pendidikan  baik di pusat maupun di daerah, kebijakan kementerian dan para kepala daerah, target kelulusan, dan lain-lain. Misalnya, dengan adanya target kelulusan baik secara eksplisit maupun implisit, karena menyangkut prestise atau gengsi kepala daerah, juga adanya penghargaan dari instansi yang diatasnya, dalam kaitan dengan persentase kelulusan siswa. Akhirnya, mereka secara tidak langsung menekan Kepala Dinas Pendidikan, agar daerahnya mencapai kelulusan 100 % atau minimal 98-99%. Selanjutnya kepala dinas menekan baik secara halus atau vulgar ke para kepala sekolah. Hasilnya rekayasa kelulusan secara massal yang dilakukan dengan berbagai variasi teknik rekayasa, supaya semua sekolah mencapai kelulusan 100% atau minimal 98%.   Makanya jadi aneh, bagaimana bisa semua siswa sekolah lulus 100%. Benarkah mereka atau siswa itu pintar-pintar semua, benarkah kualitas pendidikan kita telah meningkat cukup signifikan karena ternyata para siswa telah semuanya menyerap materi ajar. Bisakah kita dengan bangganya, dengan menepuk dada, mengatakan bahwa kualitas pendidikan kita telah baik dan para siswa yang lulus telah memiliki kualitas yang cukup tinggi. Bisakah para elite pendidikan, para kepala daerah dan mereka yang mengelola lembaga-lembaga pendidikan menyombongkan diri dengan berkata:”Kita telah berhasil membangun dunia pendidikan kita, sehingga kualitas pendidikan telah mencapai derajad yang tinggi”. Oleh karena itu, Hari Kebangkitan Nasional ini bisa menjadi momentum pula terhadap bangkitnya dunia pendidikan Indonesia, yang telah disokong dengan anggaran yang sangat besar, sebesar minimal 20% dari APBN atau APBD. Melalui dunia pendidikan  diharapkan akan terwujud manusia Indonesia yang pandai dan berkarakter serta paham akan budaya bangsanya, dengan jiwa nasionalisme yang tinggi.


No comments:

Post a Comment