Drs. H. Bambang P. Sumo, MA
Pemerhati Masalah Sosial, Politik dan Budaya
Kita baru saja usai memperingati 68 tahun kemerdekaan negara
ini, lepas dari negeri yang terjajah menjadi negeri yang merdeka dan berdaulat.
Sejarah telah mencatat dengan tinta emas perjuangan para pahlawan bangsa yang bahu membahu berjuang melawan penindasan
para penjajah tanpa berhitung untung rugi atau tanpa pamrih dan tidak
membedakan dari mana asal muasal, agama dan suku. Mereka semua bersatu padu mengusir penjajah
melalui jalan masing-masing. Dan berkat perjuangan para pendahulu kita itu pada
tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia menjadi negara yang berdaulat memiliki wilayah dan pemerintahan sendiri.
Sejak masa kemerdekaan berbagai tantangan dan goncangan terhadap negara yang
kita cintai ini terus terjadi, dari masa RIS sampai Orde Lama, Orde Baru dan
Orde Reformasi yang semua penuh dengan gejolak. Masalah utama dari semua ini
karena adanya keberagaman atau kebhinekaan dari rakyat Indonesia yang belum
tuntas terintegrasi dan terakomodasi. Bahkan semenjak Orde Reformasi yang
bergulir pada tahun 1998 seiring dengan
lengsernya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan, bukannya memperkuat kohesi
masyarakat Indonesia, tapi justru meningkatkan semangat kedaerahan dan kesukuan,
dan menjauh dari semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah negara kesatuan
Republik Indonesia. Padahal semangat UUD 1945 mengatakan bahwa setiap
warganegara Indonesia berhak untuk tinggal dan bekerja dimanapun di wilayah
negara ini. Tetapi kenyataannya sekarang di daerah-daerah banyak sekat-sekat
primordialisme dibentangkan. Nasionalisme dan keindonesiaan dari masyarakat dan
elite politik, elite masayarakat, maupun elite birokrasi di daerah makin luntur
menjadi lebih mementingkan ego kedaerahan, kelompok ataupun kerabat.
Peliknya Multikultur
Para kolega yang berasal dari berbagai negara ataupun
expatriate yang datang di Indonesia seringkali terkagum-kagum begitu mengetahui
bahwa negeri ini memiliki ribuan pulau dengan berbagai suku bangsa serta ribuan
bahasa daerah. Mereka menyatakan kekaguman dengan menyatakan betapa sulitnya
mengelola keberagaman atau kebhinekaan tersebut, karena pemerintah di negerinya
tidak menghadapi situasi multikultur
atau keberagaman yang sedemikian pelik seperti di Indonesia, yang tentu
saja akan mempengaruhi aspek-aspek sosial, politik, budaya, ekonomi, hankam dan
sebagainya. Oleh karena itu bila situasi seperti ini tidak dikelola dengan baik
tentu akan dapat menimbulkan friksi dan perpecahan bangsa. Hal ini seringkali
muncul bila terjadi benturan-benturan kepentingan, seperti bentrokan antar
suku, antar komunitas, antar wilayah,
antar kelompok, antar organisasi massa, antar kampung. Ini semua
seringkali disebabkan masih kuatnya unsur SARA. Dari hari ke hari sikap yang
cenderung mengarah ke SARA ini tidak makin melembut tapi makin mencuat dengan
dibungkus berbagai kepentingan dan kemasan yang kelihatan lebih canggih. Dalam
situasi politik yang makin menghangat seperti sekarang ini karena menjelang
Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, maka
benturan-benturan itu kemungkinan akan banyak terjadi di berbagai
wilayah. Belum lagi Pemilukada baik untuk Gubernur ataupun Bupati/Walikota akan
banyak mengeksploitasi kelompok-kelompok multikultur dengan penduduk asli.
Mengelola Keberagaman
Negeri kita tercinta dibangun berdasar kondisi kebhinekaan
atau dengan melalui pondasi keberagaman masyarakat yang memiliki cita-cita yang
sama untuk mendirikan negara kesatuan Republik Indonesia. Semenjak awal sudah
disadari betul oleh “founding fathers” kita yang mendirikan negeri ini dan
mendeklarasikan Soempah Pemoeda pada tahun 1928. Keindonesiaan dan nasionalisme
inilah yang harus terus kita bina, pertahankan dan tumbuhkan ke segenap insan
Indonesia. Setiap orang harus menyadari bahwa meskipun kita berbeda dari sisi
asal wilayah, etnik, agama, status sosial dan beragam perbedaan lainnya, tapi
harus tetap diingat bahwa kita adalah
orang Indonesia dan sama-sama memiliki negeri ini. Itulah jiwa nasionalisme. Seperti
orang Amerika Serikat, meskipun berasal dari berbagai bangsa tapi dengan bangga
mereka menyebut dirinya sebagai Americans. Seperti juga orang Thailand, suatu
saat sewaktu sedang menghadiri workshop yang diselenggarakan oleh POPIN-ESCAP di
Bangkok, penulis menjumpai suatu situasi yang menurut penulis merupakan suatu
hal yang luar biasa. Pada waktu sedang berjalan dari hotel ke tempat workshop,
penulis melewati sebuah instansi pemerintah yang sedang melaksanakan upacara.
Pada saat itu terdengar dinyanyikan lagu kebangsaan Thailand, dan orang
Thailand yang sedang berjalan di trotoar di depan instansi tersebut langsung
berhenti dengan sikap sempurna sampai lagu kebangsaan tersebut selesai
dinyanyikan. Situasi seperti ini saya kira sulit atau bahkan tidak mungkin
dijumpai di Indonesia.
Sekarang ini yang menjadi pekerjaan rumah kita adalah bagaimana
meningkatkan nasionalisme dan mengelola keberagaman atau kebhinekaan bangsa
ini. Ini semua bisa dimulai dari lingkungan terkecil keluarga sampai di
lembaga-lembaga pendidikan sejak dini. Bagaimana semenjak kanak-kanak diajarkan
cinta tanah air dan juga menghormati keberagaman yang ada di sekitar kita. Kita
harus bisa “build bridges” yang menghubungkan perbedaan antar etnik, antar
agama, antar status sosial dan sebagainya dan membangun pemahaman bersama
(common understanding) serta sikap saling menghormati secara lintas budaya.
Disamping itu perlu terus-menerus agar masyarakat meningkatkan sensitivitas
lintas budaya yang bisa secara efektif meningkatkan cultural awareness,
cross-cultural understanding, serta bisa menumbuhkan respon dan sikap positif terhadap
hal-hal yang dilakukan anggota budaya yang lain (Yook, 2013). Melalui
peningkatan sensitivitas lintas budaya ini diharapkan masing-masing individu
atau masyarakat/komunitas akan memiliki pengetahuan yang lebih baik terhadap
budaya yang lain, memiliki informasi yang lebih akurat tentang budaya lain,
serta mengurangi stereotype. Bila semua ini bisa dijalankan dengan baik dan
semua pihak mendukung serta memiliki keinginan untuk hidup secara harmonis,
maka semangat kebangsaan, nasionalisme dan konflik sosial, konflik rasial dan
etnik bisa hilang dari bumi Indonesia, dan tentu saja kita akan menjadi bangsa
yang besar, kuat dan modern.