Sunday, 28 July 2013

Balsem Hanya Jadi Penghangat, Tidak Mengurangi Kemiskinan



Balsem Hanya Jadi Penghangat, Tidak Mengurangi Kemiskinan
Drs. H. Bambang P. Sumo, MA
Pemerhati Masalah Sosial, Politik dan Budaya

Program Balsem atau BLSM yaitu Bantuan Langsung Sementara Masyarakat yang merupakan program kompensasi kenaikan harga BBM atau sebenarnya merupakan jelmaan baru dari BLT atau Bantuan Langsung Tunai, menuai banyak kritik karena banyak yang tidak tepat sasaran sekaitan dengan data masyarakat miskinnya dari Badan Pusat Statistik yang amburadul. Akibatnya banyak pimpinan wilayah dari Lurah, Camat dan juga Walikota/Bupati yang sewot karena banyak masyarakat miskin di daerahnya tidak mendapat kucuran Balsem. Malahan ada yang menolak mentah-mentah untuk menyalurkannya dan tidak urung Gubernur DKI Jakarta Jokowi pun tidak setuju karena dianggap tidak mendidik. Menurut Jokowi sebaiknya bukan program seperti ini yang diinginkan tetapi program yang sifatnya produktif dan membuat masyarakat mau berusaha.

Data Miskin
Kalau bicara masalah data, data apapun, di negeri ini dari semenjak jaman Orde Baru sampai jaman Reformasi tidak ada benarnya, masih tetap amburadul. Data tentang kemiskinan misalnya, bisa dimiliki beberapa instansi yang celakanya datanya tidak sama, masing-masing instansi dengan parameter sendiri mengumpulkan datanya sendiri. Untuk data impor atau ekspor, data hasil pertanian juga setali tiga uang, tidak ada yang sama.  Meskipun sekarang ini berdasarkan undang-undang yang ada BPS lah yang menjadi leading sektor untuk data. Namun demikian ternyata BPS masih kedodoran dalam akurasi data. Konon dari dulu sampai sekarang ada yang namanya data politik, data perencanaan dan data riil. Tergantung kepentingannya, mau mengajukan program atau kegiatan maka yang disebut data perencanaan ada kecenderungan digelembungkan supaya bisa mendapat anggaran yang berlebih. Kalau bicara tentang kemiskinan datanya cenderung diperkecil, sehingga bisa dianggap kemiskinan sudah berhasil  diturunkan. Belum lagi kalau kita bicara data kependudukan, dimana pemerintah masih dipusingkan dengan adanya data ganda penduduk yang cukup besar karena masih banyak penduduk yang mendaftarkan dirinya ke beberapa wilayah tapi belum sempat dihapus setelah terlaksananya program E-KTP dari Kementerian Dalam Negeri. Permainan data statistik di Indonesia ini cukup membingungkan banyak pihak, karena masing-masing lembaga mengklaim kalau datanya yang paling valid. Ketidakakuratan data rumah tangga miskin menyebabkan banyak program kemiskinan menjadi tidak tepat sasaran, misalnya Raskin, Balsem dan program lainnya.

Program Simtomatis
Program Balsem yang diberikan kepada rumah tangga sasaran setiap dua bulan sekali atau sebesar Rp 300 ribu (sebulan Rp 150 ribu), sebenarnya cukup lumayan bagi mereka yang masuk kategori sangat miskin. Balsem paling tidak bisa menjadi penghangat atau obat dari rasa pusing menghadapi beban hidup, atau sifatnya simtomatis. Simtomatis yang hanya mengobati rasa sakit tapi tidak mengobati penyebab rasa sakitnya. Dengan program-program yang sifatnya simtomatis, seperti Balsem, Raskin, Jamkesmas, bansos, tidak akan dapat mengurangi angka kemiskinan. Penduduk miskin akan tetap banyak tanpa ada dukungan program-program yang secara struktural bisa mengangkat harkat hidup mereka, atau program yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga miskin secara berkelanjutan, bukan program yang sifatnya periodik atau ad hoc. Pemerintah dan perusahaan-perusahaan melalui  program Corporate Social Responsibility  serta lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya dapat mendisain program yang dapat meningkatkan pendapatan para keluarga miskin, khususnya yang menyasar para anggota keluarga miskin, apakah kepala keluarganya (khususnya yang menganggur), istrinya, atau anak-anaknya untuk berwirausaha secara produktif melalui permodalan dan magang serta pelatihan ketrampilan sederhana yang dapat digunakan untuk mencari penghasilan dengan mudah. Bisa juga mereka dilatih untuk pekerjaan-pekerjaan sederhana yang tidak memerlukan keterampilan atau pendidikan yang tinggi. Hal ini mengingat tidak setiap orang bisa berwirausaha atau juga berdagang.

  
Jumlah Penduduk Makin Meledak
Bertambahnya jumlah penduduk Indonesia semakin mengkhawatirkan, setiap tahun bertambah sekitar 3,5 juta atau setara penduduk Singapore. Jumlah penduduk Jakarta saja yang sekitar 10 juta sudah setara dengan setengah penduduk Australia yang punya penduduk 20 juta. Sekarang ini Negara kita telah terbebani penduduk sebanyak 240 juta, dengan kualitas penduduk yang sangat rendah. Rata-rata pendidikan masyarakat Indonesia belum sampai pada level lulus SMA atau sederajat, rata pendidikan nya masih SMP plus. Dengan kondisi yang memprihatinkan tersebut, dengan sendirinya tingkat kesejahteraan masyarakat kitapun sudah bisa ditebak. Beban berat inilah yang ditanggung negara kita tercinta. Bisa kita bayangkan, dengan penduduk yang sebesar itu berapa fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi, perumahan, perkantoran, infrastruktur, pasar, dan sebagainya yang harus kita sediakan. Setiap tahun terus bertambah, tidak heran kalau pemerintah juga kedodoran melayani pemudik lebaran yang akan mudik ke Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, yang diperkirakan ada 9,5 juta pemudik dari DKI Jakarta dan sekitarnya. Bagaimana kita lihat setiap hari kemacetan lalu lintas di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia yang setiap tahunnya bertambah parah, karena tidak pernah ada solusi, sedangkan jumlah penduduk terus bertambah. Bagaimana ribuan penduduk miskin yang antre BLSM sampai terinjak-injak seperti di Tangerang belum lama ini. Ini semua akibat jumlah penduduk yang makin tidak terkendali, akibatnya kemiskinan pun semakin susah pula dikendalikan karena rendahnya SDM dari penduduk itu sendiri. Akhirnya seperti lingkaran setan, dimana keluarga miskin menghasilkan anak-anak yang tidak berpendidikan, dan anak-anak tersebut nantinya akan memproduksi generasi yang demikian juga. Oleh karena itu pengendalian jumlah penduduk harus ditangani dengan sangat serius oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sekarang ini program ini banyak diabaikan oleh pemerintah pusat dan daerah karena dipandang tidak penting, karena manfaaatnya tidak dapat langsung dilihat dan dirasakan dalam periode 5 tahun jabatan politik.

Published in Banten Ekspres Juli 2013