Sunday, 3 February 2013

Politik Uang dan Politik Berbudaya


Politik Uang dan Politik Berbudaya


Baru saja Presiden Barrack Husein Obama dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya dan menjadi rujukan demokrasi di dunia. Melalui pemilu yang cukup sengit, akhirnya Presiden Obama bisa melanjutkan kepresidenannya untuk periode jabatan keduanya. Pemilu di AS ini ternyata menguras banyak uang dari masing-masing calon presiden. Pengeluaran untuk kampanye masing-masing kandidat presiden kali ini menguras jumlah uang lebih dari dua kali lipatnya dibanding pengeluaran dana kampanye pada waktu Presiden Obama mencalonkan untuk periode pertama kepresidenannya. Umumnya dana besar ini digunakan untuk membiayai kampanye media yang memang sangat luar biasa. Namun beda dengan  Pemilu  di Indonesia, meskipun diatur dalam UU Pemilu, penerimaan dan pengeluaran dana kampanye untuk Pemilu di AS diatur dengan sangat ketat dan transparan, sedangkan di negeri kita penerimaan dan pengeluaran dana kampanye seorang calon banyak tidak transparan. Dengan kurang transparannya dana kampanye di negeri kita tercinta ini tentu saja menimbulkan adanya politik uang yang merajalela dalam setiap Pemilu, Pemilukada ataupun Pemilu legislatif.
Politik uang sudah sangat akut dalam percaturan politik di Indonesia. Hampir semua kandidat, baik dalam pencalonan sebagai presiden, gubernur, bupati, walikota, anggota DPR/DPRD, tim sukses atau tim kampanyenya selalu menghambur-hamburkan uang untuk membeli suara masyarakat. Apakah itu dalam bentuk uang tunai, pemberian barang-barang tertentu, bantuan sosial, ataupun dalam bentuk lainnya. Uang itupun berasal dari berbagai baik dari sumber-sumber yang gelap maupun yang terang. Tapi sumber aliran uang terbesar justru dari sumber yang tidak transparan dan tidak terlacak, ada sumbangan pribadi yang melebihi ketentuan undang-undang, sumber korporasi yang juga banyak di bawah tangan, sumber-sumber BUMN, APBN, APBD yang terselubung, dan sumber-sumber lainnya yang seringkali tidak jelas dan perlu dipertanyakan. Penggalangan dana seperti yang dilakukan kandidat presiden di AS melalui acara resmi  yang dihadiri para selebritis dan pengusaha kakap yang menjadi pendukung, dalam bentuk seperti  acara dinner, acara amal  dan sebagainya, yang umumnya menghasilkan uang milyaran, hampir tidak pernah dilakukan di negeri kita. Akibat dari kurang transparannya sumber-sumber keuangan dari para kandidat ini, maka terjadilah aliran uang di bawah tangan dari para pengusaha yang mungkin karena ada tekanan atau ada kepentingan bisnis dari yang bersangkutan baik di masa sekarang maupun masa yang akan datang. Uang-uang haram inilah yang dihambur-hamburkan untuk menggalang suara di masyarakat. Kondisi seperti inilah yang juga banyak menimbulkan praktek suap dalam dunia perpolitikan kita. Contoh morat-maritnya dana kampanye di Indonesia adalah seperti kasus yang sedang berlangsung yang berkaitan dengan suap untuk dana kampanye Bupati Buol yang melibatkan pengusaha terkenal Hartati Murdaya. Dalam kasus seperti ini seringkali pengusaha dalam kondisi yang dilematis, bila tidak memberi bantuan dana kampanye atau untuk apapun, kepentingan bisnisnya akan dihambat; sedangkan bila memberi bisa dianggap penyuapan.

Politisi dan Masyarakat
Carut-marut politik uang ini melibatkan para politisi/kandidat dengan tim suksesnya dan masyarakat di pihak lain. Seakan-akan ibarat pepatah duluan mana antara ayam dan telur. Apakah politisi/kandidat yang merusak masyarakat melalui kekuatan uangnya, atau karena adanya rengekan masyarakat yang ingin dipenuhi kebutuhannya baik dalam bentuk  tunai maupun sumbangan-sumbangan untuk kepentingan di lingkungannya, sehingga menyebabkan para politisi/kandidat menggelontorkan uangnya ke mereka. Para politisi/kandidat berasumsi tanpa uang maka masyarakat tak akan mendukungnya, ibarat tanpa uang abang melayang. Di pihak lain masyarakat beranggapan, bila politisi/kandidat tidak mau menggelontorkan uang ke mereka dianggap sebagai politisi/kandidat yang pelit dan tidak ada perhatian kepada mereka. Ada pameo di masyarakat, belum terpilih saja pelit apalagi kalau sudah menang dan menjadi pejabat atau anggota DPR/DPRD. Inilah yang sekarang terjadi sebagai akibat demokrasi liberal yang diterapkan setelah era reformasi. Pertanyaannya apakah para politisi yang merusak masyarakat dengan iming-iming uang, atau ini merupakan wajah dari masyarakat kita yang menilai sesuatu dengan kebendaan duniawi akibat dari arus konsumerisme atau juga karena beban kemiskinan yang mendera sebagian masyarakat kita.
Ongkos Politik
Uang dalam dunia politik kita seakan sudah menjadi pelumas yang jamak bila ingin mencapai tujuan yang diharapkan. Tanpa uang mesin politik tidak akan jalan. Maka beramai-ramailah para politisi mencari dukungan finansial dengan berbagai sumber, terjadilah menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan atau menerapkan strategi Machiaveli. Oleh karena itu tidaklah heran kalau banyak dari anggota DPR atau DPRD yang terjerat dalam kasus-kasus hukum karena terlibat dalam mafia anggaran atau pengaturan proyek-proyek kementerian atau proyek-proyek pemerintah daerah. Ini merupakan dampak dari ongkos politik yang semakin mahal. Hal ini banyak diakui oleh para anggota DPR, pada saat mencalonkan diri supaya terpilih menjadi anggota DPR. Mereka telah menguras kantong pribadinya dari mulai ratusan juta rupiah sampai milyaran rupiah. Tanpa uang akan sulit bagi mereka untuk dapat dukungan masyarakat. Demikian pula yang terjadi dengan para kandidat yang mencalonkan diri untuk menjadi kepala daerah dari gubernur sampai bupati/walikota. Dana yang dibutuhkan bisa mencapai dari kelas puluhan milyar sampai ratusan milyar, dana tersebut selain untuk digelontorkan untuk lembaga survey, dana tim sukses, kampanye media, menyewa perahu (partai politik yang mengusungnya biasanya juga pasang tarif) dan tentu saja yang sering menyedot banyak dana adalah uang “money politics” untuk membeli suara masyarakat.
Dengan ongkos politik untuk pencalonan yang sangat besar tersebut, sudah barang tentu pada saat mereka sudah terpilih dan menduduki posisi yang diharapkan, maka merekapun  berupaya agar uang yang sudah dikeluarkan untuk pencalonan bisa kembali lagi. Inilah yang menyebabkan timbulnya deviasi dalam perencanaan penganggaran dan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan. Terjadilah berbagai bentuk penyelewengan dan pelanggaran hukum, serta tentu juga menjadi pertanyaan kita, apakah jabatan yang kita emban itu amanah bila kita mendapatkannya dengan cara-cara tidak wajar.
Politik Berbudaya
Naiknya Jokowi  menjadi Gubernur DKI Jakarta yang didukung oleh media dan jejaring sosial serta sebagian besar elemen masyarakat merupakan momentum yang baik untuk dijadikan model Pemilukada yang relatif bersih dari politik uang. Track record dan kompetensi dari kandidat yang menjadi ukuran. Jokowi terpilih menjadi gubernur bukan karena telah menggelontorkan uang untuk membeli suara masyarakat, tapi bahkan sebaliknya masyarakat justru yang banyak mengeluarkan bantuan dalam berbagai bentuk untuk mengawal dan mendukung pencalonannya. Inilah yang kita harapkan.  
Politik yang menjunjung tinggi etika, kejujuran, transparansi, amanah dan kompetensi, atau politik yang berbudaya yang diharapkan menjadi basis dari pelaksanaan demokrasi kita. Tidak lagi dengan cara-cara kotor dengan membeli suara masyarakat. Dengan demikian  kita akan menghasilkan pemimpin yang amanah yang betul-betul berjuang untuk kesejahteraaan dan kemajuan masyarakat, bangsa dan negara yang kita cintai ini. Sehingga Pemilu atau Pemilukada yang kita lakukan nantinya benar-benar untuk menguji kompetensi para kandidat yang akan menjadi pemimpin bangsa, yang terjadi nantinya adalah adu kompetensi antar kandidat dalam berbagai program dan kemampuan, baik dilakukan dalam debat terbuka maupun kampanye media yang massif. Sehingga tidak terjadi lagi justru kandidat yang memiliki kompetensi yang hebat malah tidak terpilih, justru kandidat yang tidak jelas track record dan integritasnya malah terpilih karena lihai dalam permainan politik uang. Sekaranglah saatnya kita mulai untuk bermain politik secara berbudaya, kalau kita tidak ingin bangsa ini semakin hancur karena banyak dipimpin para pemimpin yang tidak amanah. Harapannya mari kita dorong para calon/kandidat yang memiliki intelektualitas, integritas dan kompetensi untuk maju mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa, dan masyarakat diharapkan untuk semakin selektif memilih pemimpinnya tanpa terpengaruh oleh iming-iming uang.

Published in Banten Ekspres Edisi 5 Januari 2013