Drs.
H. Bambang P. Sumo, MA
Pemerhati
Masalah Sosial, Budaya, dan Politik
Informasi yang disampaikan Komisi
Pemberantasan Korupsi atau KPK tentang Laporan Hasil Pemeriksaan Investigasi
Tahap II untuk Proyek Hambalang menyatakan adanya indikasi keterlibatan para
anggota DPR-RI dalam penggelembungan anggaran proyek. Selain itu KPK juga
mengendus adanya indikasi permainan untuk proyek PON Riau, terindikasi atau ada
dugaan para anggota DPR juga ikut dalam permainan anggaran. Kita tahu bahwa
beberapa politisi DPR sedang dalam penyelidikan dan penyidikan KPK, juga ada
yang dalam tahap persidangan dan malahan beberapa sudah divonnis atau dijatuhi
hukuman. Kalau itu tadi banyak para politisi Senayan yang terlibat beberapa
kasus, juga setali tiga uang, para politisi DPRD Propinsi dan Kabupaten/Kota
banyak pula terjerat kasus hukum. Umumnya kasus-kasus hukum di atas berkaitan
dengan masalah kongkalikong alias persekongkolan alias hanky panky antara para
politisi di legislatif dengan mitranya di eksekutif untuk urusan anggaran atau
proyek di APBN atau APBD Propinsi dan Kabupaten/Kota. Bisa dalam bentuk titipan
proyek, meloloskan suatu usulan kegiatan/proyek, penggelembungan angka dan
modus-modus lainnya, baik langsung dengan eksekutif atau instansi yang
bersangkutan maupun dengan pihak ketiga yang dijanjikan akan melaksanakan
proyek tersebut. Kasus M. Nazarudin mantan Bendahara Partai Demokrat menjadi
salah satu contoh yang fenomenal dan hiruk pikuk yang sampai sekarang ramai
menjadi bahan gunjingan orang di negeri ini, yang mana kasus ini banyak
melibatkan para politisi nasional terkenal. Bahkan sampai saat ini Nazarudin terus
berkicau (heran juga napi bisa diwawancara wartawan dengan bebas) membongkar
perselingkuhan anggaran yang dilakukan para politisi di DPR-RI.
Bagaimana dengan Pilkada?
Dalam beberapa pemilihan kepala daerah atau
Pilkada yang sudah dilaksanakan, atau baru usai dilaksanakan, atau masih dalam
proses pelaksanaan, seperti Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, NTB, Kalimantan Timur, dan juga beberapa Kabupaten/Kota seperti Kota
Tangerang, Kota Probolinggo, Kabupaten Lebak, Kota Samarinda, beberapa calon
kepala daerah tidak hanya dicalonkan oleh satu atau dua partai pendukung bahkan
sangat banyak partai yang mengusung calon tersebut. Seperti Fauzi Bowo ketika
mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta diusung oleh beberapa partai
besar dan partai non parlemen, pada putaran kedua Foke-Nara didukung oleh Partai
Demokrat, Partai Golkar, PKS, PAN, PPP, PKB, dan Partai Hanura serta beberapa
partai non parlemen. Sedangkan yang luar biasa adalah dukungan untuk calon
Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Saifullah Yusuf; calon incumbent ini memborong
10 partai yang memiliki 70 kursi di parlemen alias sapu bersih, dan 19 partai
non parlemen. Bandingkan dengan calon gubernur Bambang DH-M. Said Abdulah yang
hanya didukung PDIP dengan 17 kursi DPRD, dan Khofifah-Herman S. Sumawiredja
yang didukung PKB dan 7 partai kecil lainnya
dengan 13 kursi di DPRD. Tidak kalah dengan Jawa Timur, Calon Gubernur
Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak dan Mukmin Faisyal dalam Pemilihan Gubernur
(Pilgub) Kaltim juga ikut-ikutan memborong partai politik seperti halnya
Soekarwo-Saifullah Yusuf. Awang diusung oleh 10 partai politik, yaitu Partai
Golkar, Demokrat, PAN, PKS, PBB, Partai Patriot, PDK, PDS, PKB, dan Hanura,
yang memiliki 67 persen kursi di parlemen. Apakah perahu yang dipakai untuk
mendukung pencalonan ini gratis? Katanya tidak ada makan siang yang gratis, tidak
ada yang cuma-cuma dengan memberikan dukungan gratis; dan inilah kesempatan
para elit politik untuk mendapat durian runtuh yang dapat mempertebal
pundi-pundi kantong pribadi maupun partai. Negosiasi diam-diam dan seringkali
alot bisa terjadi untuk mencari kesepakatan win-win, anda suka saya suka. Bukan
rahasia lagi kalau ada maharnya untuk menyewa perahu yang digunakan untuk
berlayar di lautan kompetisi Pilkada, bisa dalam hitungan ratusan juta atau
milyaran rupiah. Mereka yang melakukan belanja partai besar-besaran adalah
umumnya para calon incumbent atau pasangan yang memiliki sumber keuangan besar,
dengan harapan cara itu dapat memenangkan Pilkada. Tapi ternyata tidak selalu
sesuai harapan, bisa kita lihat di DKI Jakarta yang dimenangkan oleh Jokowi-Ahok
yang diusung PDIP dan Gerindra, sedangkan Foke-Nara mengeroyok melalui beberapa
partai besar dan kecil.
Para
Politisi di Pileg
Ketika ngobrol dengan teman-teman yang ada
di legislatif yang mau “nyaleg” dan juga dengan para sahabat dari non parlemen
yang mau “nyaleg”, hampir mayoritas dari mereka lebih percaya pada serangan
fajar menjelang Pemilu Legislatif/Pileg dari pada melakukan blusukan atau
promosi dan sosialisasi ke masyarakat. Menurut mereka model promosi atau
sosialisasi hanya membuang-buang uang saja. Lebih efektif mendatangi mereka
dengan bujukan amplop. Umumnya para calon legislatif/ caleg sudah punya
keyakinan bahwa masyarakat tidak akan memilih tanpa diberikan uang sebagai
pemancingnya. Oleh karena itu para caleg ini telah membentuk tim sukses yang
bertugas untuk bergerilya dan saling mengintip kekuatan lawannya. Besarnya
serangan fajar tergantung dari lawan politiknya yang bergerilya di wilayah
dapilnya. Tampaknya hal ini didukung oleh KPU, terbukti dengan keluarnya
Peraturan KPU No. 17 Tahun 2013, yang membatasi jumlah dan jenis alat peraga
untuk sosialisasi atau kampanye partai politik dan calon legislatif.

